Sunday, October 24, 2010

Penyesalan yang berulang

Tujuh hari berselang.

Kala pengampunan akhirnya dilepaskan dan segala kemarahan, kebencian menguap, yang tertinggal adalah penyesalan, kesedihan mendalam. Dan tentunya, kerinduan yang membuncah.

Aku hanya bingung, hal-hal yang kukira baik dan kulakukan, ternyata tidak sebaik itu. I tried my best, aku mengusahakan segalanya sekuatnya. Aku menyesal aku tidak cukup baik. Kalau saja aku mau berjuang lebih keras, mungkin semua ini tidak perlu terjadi.. Andai aku lebih peka, mungkin ini semua tidak perlu terjadi..

Ingin rasanya mengembalikan waktu, tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan perpecahan. Ingin rasanya minta Tuhan kembalikan aku dimana aku ada bersama dia, tidak ada kesedihan, tidak ada kemarahan, tidak ada sakit hati, tidak ada ketidaknyamanan, yang ada hanya sukacita yang besar, matahari yang bersinar, berkat-berkat, kenangan-kenangan manis.


Sunday, October 17, 2010

empty space

Apa sih ruang itu, sampai sedemikian pentingnya dan bikin perasaan benci meluap-luap?

Aku bukan cewek yang posesif. Bukan cewek yang minta laporan 24 jam dalam sehari apa yang dia lakukan, sama siapa, ngapain aja. Sama sekali tidak. Pada jam kerja, saat dia tidak mau diganggu, aku tidak pernah ganggu. Sedangkan sebaliknya, jika aku dalam keribetan pekerjaan pun, pasti aku ladeni. Anyway, itu dari sisiku sih.

Aku hanya minta, weekend kita bisa ngobrol, walaupun tidak sempat ketemu, misalnya karena dia keletihan atau apa. Aku tahu, hari biasa aku sama sekali tidak bisa ganggu, karena dia kerja sampai malam dan jika sudah malam, dia sudah terlalu letih untuk bincang-bincang denganku. Atau dia mau buru-buru bercengkrama dengan keluarganya. Oke, aku mengalah. Pastinya, dibanding keluarga, aku entahlah urutan nomor berapa.

Semenjak ganti BlackBerry, sangat jarang sekali kita bertelepon. Mungkin ini salah satunya juga. Katanya BlackBerry itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Mungkin ada benarnya juga.

Aku tidak pernah keberatan dia pergi dan hangout dengan teman-temannya, dibanding aku.

Ngerinya, rupa-rupanya ada yang salah di sini. Aku mengira, memang demikianlah karakternya, kebiasaannya, sifatnya, sehingga aku pikir aku harus menyesuaikan diri dengan itu semua, mencari celah agar aku bisa nyaman dengan itu semua. Bagaimanapun, hubungan dua orang, harus saling menyesuaikan, toh?

SALAH.
Ternyata dia menginginkan RUANG. Waktu untuk berpikir. Dan saat aku tanya, kenapa dia tidak bilang, dia jawab dia pinginnya aku tahu tanpa dia harus bicara.

HALOOOO? Sini dukun emangnya??

Aku sakit hati. Sungguh. Setiap kali aku ajak bicara, dia selalu menghindar. Komunikasi seperti ini yang aku selalu perlu, supaya apa yang salah, bisa aku betulkan, tidak aku lakukan lagi. Aku ingin dia bicara mana yang tidak disukainya, mana yang tidak apa-apa. Supaya pada akhirnya, ada solusi, membuat kondisi nyaman bagi diri sendiri, dan menjadikan satu sama lain merasa nyaman. Bukannya menebak-nebak dan berakhir dengan prasangka, kesalahpahaman, dan buatku, kebencian.

Ini sangat tidak adil. Dia tidak adil.
Dan, seharusnya, jika saja dia sedikit pintar dan memperhatikan, kalau setelah beberapa waktu aku tidak berubah sesuai maunya dia, berarti ada yang salah kan? Yup, betul. Karena aku TIDAK BISA BACA PIKIRAN ORANG.

Kurang ruang apa lagi yang aku berikan? Aku membuang jauh-jauh semua egoku demi memberi dia ruang. Seperti yang aku ceritakan di atas, aku tipe orang yang ingin ngajak ngobrol terus, canda-canda terus, tapi karena dia sibuk, dia capek, dia banyak urusan, aku mengendalikan diri. Dulu aku pemarah, namun demi dia, aku menekan kemarahanku jika tidak semua keinginanku terpenuhi.

Kurang ruang apa lagi? Dua tahun lamanya aku memberikan ruang itu, ruang sialan itu, sejak dia putuskan aku, terombang-ambing tanpa status hubungan yang jelas. Dua tahun lamanya. Dan pemutusan itu dilakukan sepihak. Tanpa penjelasan. Dia ga tahu betapa aku berusaha keras memberi ruang itu kepadanya. Salahku juga, bahwa aku memutuskan untuk menunggu. Dahulu kupikir, karena keadaan akan membaik suatu hari nanti.

Aku terlanjur membuka diri dan membuka hati, dan yah, sakit hati dan remuk redam yang kudapat. Kini semuanya aku mau kasih Tuhan saja. Biar Dia yang buka, untuk seseorang entah siapa, jika sudah waktunya.

Akhirnya sekarang? Sakit hati dan kebencian yang meluap. Marah. Sedih.
Aku memblock dia dari twitterku.