Thursday, May 26, 2011

lalu?

Waktu berjalan terlalu cepat. Maret sampai dengan awal Mei, aku dan dia diperhadapkan dengan banyak lembah, banyak kesedihan, banyak kemarahan.

Aku mulai merasa sangat tidak aman. Semuanya mulai terasa semu dan hanya harapan kosong belaka. Mimpi konyol belaka. Ada di mana sih aku? Ada di mana sih kita? Apa sih yang kita lakukan? Dan semuanya bertubi-tubi. Aku diabaikan, aku disisihkan. Mungkin saja aku hanya pelengkap penderita. Dan aku mengambil keputusan. Bukan keputusan semalam, melainkan sesuatu yang sudah aku gumuli selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan mungkin juga beberapa tahun.

Kupikir, kalau memang bukan aku, mungkin aku hanya diperbolehkan 'menggarami' sepenggal waktu dan periode saja, kemudian berpindah lagi menjadi berkat bagi orang lain.. Dan itulah yang aku sampaikan. Aku sendiri tak tahu apakah aku harus gembira atau harus marah kala ia menyatakan tidak siap bertemu denganku, tidak siap untuk bicara panjang lebar. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti berkomunikasi untuk sementara waktu.

Berat, namun kupikir memang itu yang terbaik. Kupikir, kalau memang selepas itu akhirnya kami betul-betul 'lepas' satu sama lain, ya mungkin memang sudah seharusnya begitu.

Itulah yang membuatku benar-benar merasa campur aduk saat akhirnya ia yang lebih dahulu menghubungiku. Dan itu pulalah yang lebih mengaduk-aduk perasaanku saat akhirnya kami bertemu lagi. Namun aku tahu, aku harus sangat berhati-hati.. Aku tidak mau terlena. Aku harus tetap waspada.

Namun bagaimana caranya kala semua perasaan yang tertahan sekian waktu mendesak ingin keluar? Sungguh ingin membanjiri dia dengan segala apa yang bisa kulakukan dalam batasku. Aku ingin mengasihinya, aku ingin menyayanginya, aku ingin memberi semua yang bisa kuberikan.

Aku ingin kami mulai bisa menentukan langkah berikutnya dan bergerak maju. Ini adalah tahun keempat kami dan aku sungguh berharap ada sesuatu yang terjadi, batu pijakan kami, milestone kami saat bergerak maju. Belum lagi, beberapa sahabat mulai satu demi satu menikah. Membicarakan masa depan.

Benar-benar curahan hati belaka...


Thursday, January 20, 2011

we girls and you guys

I wonder, how come men say it is so hard to understand girl's mind?
WRONG. What for me is, I can never understand how the way men think. The only thing they should understand about us girls is we are COMPLICATED. Moody. So it tells everything about us. So you men should understand that we are changing our mind every single second, and what we're saying is most of the time is the opposite.

While I don't understand you guys. You always put us into a dilemma situation. You said A, and we do it. When we do it, you don't really like it.

Most of the time, I must admit, the problem between me and you is only a matter of sex. Gender.

Friday, December 17, 2010

12 pertanyaan

Apakah seseorang di sana, sudah memenuhi kriteria ini? Apakah aku sudah memenuhi kriteria ini juga baginya?


Ketika sedang mempertimbangkan untuk berhubungan dengan seseorang, sangat penting bagi Anda untuk mempertimbangkan kerohanian dan keyakinan yang terlihat melalui cara mereka memandang hidup dan bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Penulis Lee dan Leslie Strobel mengatakan pertanyaan-pertanyaan berikut sangat penting untuk menjadi bahan pertimbangan sebelum Anda memutuskan untuk berkencan dengannya.

1. Dapatkah ia mengatakan waktu yang spesifik atau era tertentu kapan ia menerima karunia Kristus akan hidup yang kekal? Jika ia tidak dapat menentukan waktu pertobatannya atau setidaknya kerangka waktu saat di mana hal itu terjadi, maka mungkin saja hal itu memang tidak pernah terjadi. Dengarkan dengan hati-hati ketika ia berbicara mengenai imannya. Apakah ia mengandalkan perbuatan baik, ritual keagamaan, dan tersenyum untuk sampai ke surga atau apakah ia menggambarkan imannya pada satu titik untuk mengakui dosanya, berbalik dari jalan-jalannya yang salah kepada hidup, dan menerima Kristus sebagai pengampun dosa dan pemimpinnya? Kristus telah menyelamatkan kita bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan tetapi karena kasih karunia, sebagaimana yang tertulis di Titus 3:5.

2. Ketika ia membicarakan masa depan, adakah tempat untuk Tuhan di sana? Atau apakah ia membayangkan masa depan yang dirancangkannya sendiri? Apakah ia berbicara tentang mencari arahan Tuhan untuk hidupnya? Apakah ia memiliki rencana untuk melayani Tuhan dengan berbagai cara? Apakah ia terfokus untuk mencapai kesuksesan yang sementara atau bermakna kekal? Apakah ia ingin membuat perbedaan di dunia bagi Kristus? “Tapi satu hal yang saya lakukan,” ujar Rasul Paulus. Melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

3. Apakah ia bersedia untuk menunda kepuasaan sesaat sehingga kepuasan yang lebih besar dapat dinikmatinya di masa depan? Apakah ia tidak tinggal dalam pengajaran Alkitab yang mengatakan bahwa pengorbanan dan perjuangan seringkali diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang yang lebih besar? Atau apakah ia tanpa henti mengejar kesenangan jangka pendek dengan mengorbankan konsekuensi jangka panjang? “Agama yang sehat memanggil kita untuk tidak memanjakan diri kita sendiri dan hidup secara egois melainkan berkomitmen untuk hidup dalam kemurnian, kasih, memberi, tidak egois, disiplin dan terkadang gaya hidup yang tidak nyaman,” ujar Collins. “Hal ini tidak dimaksudkan untuk mencuri sukacita dan membuat hidup kita sengsara. Sebaliknya, hidup dalam pengabdian membawa ketenangan batin, kepenuhan hidup, dan janji bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik di masa depan.”

4. Bagaimana sikapnya terhadap orang lain? Apakah ia menggunakan orang lain hanya sebagai alat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan atau apakah ia benar-benar peduli dengan orang lain? Apakah ia bersikap sopan karena orangtuanya mengajari sopan santun atau karena ia tulus menghormati orang lain? Bagaimana ia memperlakukan mereka yang kurang beruntung dalam lingkungan sosial kita? Apakah ia peduli terhadap orang miskin? Apakah ia memiliki rasa keadilan sosial yang membuatnya ingin melihat keadaan orang miskin menjadi lebih baik, atau ia bersikap tidak peduli bahkan sinis terhadap mereka yang berkekurangan? Mereka yang mengolok-olok orang miskin, ujar Amsal 17:5, menunjukkan penghinaan kepada Penciptanya.

5. Apakah ia menunjukkan sifat-sifat Yesus? Apakah ia mengampuni mereka yang menyakiti dirinya atau apakah ia malah merencanakan balas dendam? Apakah ia bersikap murah hati terhadap orang lain? Apakah ia berdiri di atas kebenaran? Apakah ia peduli pada mereka yang miskin dan tertindas? Teman saya Gary Collins, seorang psikolog Kristen, mengatakan seperti ini: “Alkitab tahu benar akan orang Kristen yang kikir, dengki, biasanya tak kenal ampun, membenarkan diri sendiri maupun sombong. Tidak ada manusia sempurna dan setiap kita selalu tergoda untuk berbuat dosa, tapi pengikut Kristus sejati menunjukkan tanda-tanda untuk menjadi semakin serupa dengan masternya.”

6. Dengan siapa ia banyak menghabiskan waktunya? Anda dapat belajar banyak akan nilai-nilai hidup yang dianutnya dengan melihat dengan siapa ia bergaul. Apakah ia berkumpul dengan mereka yang kegiatan utamanya bukanlah sesuatu yang menyenagkan Tuhan atau apakah ia mencari hubungan dengan orang Kristen yang dapat mendorong ia untuk terus bertumbuh dalam iman dan kasih? Janganlah sesat, tulis 1 Korintus 15:33, pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.

7. Apakah ia perduli untuk mengabarkan Injil kepada mereka yang belum pernah mendengarnya? Mereka yang hatinya telah diubahkan Kristus merasa termotivasi untuk membagikan imannya kepada orang lain. Tapi mereka yang menjadikan Kristen tak lebih sebagai label tidak memiliki alasan untuk membawa pesan Yesus kepada orang lain. Salah seorang santo zaman dahulu pernah berkata, “Saya meragukan keselamatan seseorang yang tidak peduli akan keselamatan tetangganya.” Itu tidak berarti ia harus seperti Billy Graham, tapi ia mau berdoa untuk teman-temannya yang terhilang dan memanfaatkan peluang untuk melibatkan mereka dalam percakapan rohani sehingga mungkin ia bisa memberitahu mereka tentang Yesus.

8. Apakah ia jujur terhadap hal-hal kecil? Integritas berarti ada konsistensi antara keyakinan seseorang dengan perilakunya dan antara karakter dengan keyakinannya. Apakah ia memiliki reputasi sebagai seseorang yang dapat dipercaya atau apakah ia dikenal sebagai seseorang yang cerdik dan mengabaikan hal etis? Seorang wanita mengatakan karakter pacarnya terungkap ketika seorang pelayan secara tidak sengaja memberikan tagihan meja lain kepada mereka. Bukannya memberitahu kesalahan itu, ia malah mencoba untuk segera membayar jumlah tagihan yang lebih kecil dari seharusnya dan segera meninggalkan restoran tersebut sampai akhirnya wanita itu menghentikan pacarnya. Ketidak-jujuran kecil seringkali mengungkapkan keadaan sebenarnya dari isi hati seseorang. Orang saleh berjalan dengan integritas, tulis Amsal 20:7.

9. Melalui lensa seperti apakah ia memandang dunia? Setiap kita memandang kehidupan melalui satu jenis lensa. Cara pandang seseorang terhadap dunia menunjukkan gambaran besar yang akan mengarahkan keputusan-keputusan dan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kekristenan merupakan sebuah jalan untuk melihat dan memahami semua kenyataan. Apakah ia memisahkan kehidupan rohani dalam kehidupan kesehariannya ataukah imannya diintegrasikan ke dalam semua bidang kehidupannya? Apakah ia mengakui dan menerapkan Alkitab sebagai landasan untuk seumur hidupnya?

10. Apakah ia bertanggung-jawab atas setiap perbuatannya? Apakah ia segera mengakui kesalahan yang telah dilakukannya atau justru mencoba membenarkan tindakannya meskipun hal itu jelas-jelas salah? Apakah ia mengakui dosa yang dilakukannya atau menyalahkan orang lain untuk hal-hal yang ia lakukan? Orang percaya yang sehat tidak mencoba untuk lari dari masalah, menyalahkan orang lain atau menolak untuk mengakui tindakannya. Sebaliknya, ia akan mengakui dosa dan kesalahannya, meminta pengampunan dari Tuhan dan dari orang lain yang mungkin telah dirugikannya, membuat restitusi bila memungkinkan, dan melanjutkan hidup – dengan satu tekad untuk tidak membiarkan kesalahan yang sama terjadi lagi.

11. Apakah ia memiliki kerendahan hati? Yesus berbicara dengan tegas mengenai kesombongan, dan Mikha 6:8 mengatakan bahwa kerohanian sejati melibatkan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Apakah orang ini selalu berlaku benar? Apakah ia secara murah hati memuji kontribusi orang lain? Apakah ia selalu menempatkan dirinya sendiri terlebih dahulu dan berpikir bahwa ia tahu lebih baik daripada orang lain? Kerendahan hati bukanlah ketakwaan palsu yang menyangkal kekuatan Allah yang telah diberikan. Kerendahan hati tidak menempatkan kita di bawah dan berkubang dalam ketidak-amanan atau mengasihani diri sendiri. Kerendahan hati merupakan sebuah pengakuan dari hati yang menyadari bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan. Kerendahan-hati merupakan sebuah sikap yang membuka wawasan baru dan tidak mengedepankan ego maupun citra diri kita sendiri.

12. Apa yang ia pilih sebagai makanan pikirannya? Jenis buku apa yang ia baca, musik yang ia dengarkan, video game yang ia mainkan, situs internet yang ia kunjungi, dan film yang ia tonton? Filipi 4:8 berkata, Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Bagaimana seseorang mengisi pikirannya akan menjadikannya segambar dengan pikiran yang ia miliki. Sebagaimana Paulus mendesak agar setiap kita berubah oleh pembaharuan budi kita.


Wednesday, December 15, 2010

Yang aku tahu..

Aku tahu, aku sedang dipersiapkan.
Aku juga tahu, bahwa seseorang sedang disiapkan bagiku.
Aku tahu, waktuku belum tiba.
Namun aku juga tahu, perasaan rindu kala melihat teman-teman mengalaminya.
Aku tahu, masih banyak hal yang harus dikerjakan sebelum waktuku tiba.
Aku tahu, sekarang waktuku untuk menjadi diri sendiri, memberi diri untuk melayani.
Aku tahu, Ia akan menjadikannya pada waktunya.
Aku tahu, aku dalam penantian. Kala saatnya tiba, aku tahu bahwa semuanya layak ditunggu.

Aku tahu, pada waktunya kelak, akan luar biasa :)

Sunday, October 24, 2010

Penyesalan yang berulang

Tujuh hari berselang.

Kala pengampunan akhirnya dilepaskan dan segala kemarahan, kebencian menguap, yang tertinggal adalah penyesalan, kesedihan mendalam. Dan tentunya, kerinduan yang membuncah.

Aku hanya bingung, hal-hal yang kukira baik dan kulakukan, ternyata tidak sebaik itu. I tried my best, aku mengusahakan segalanya sekuatnya. Aku menyesal aku tidak cukup baik. Kalau saja aku mau berjuang lebih keras, mungkin semua ini tidak perlu terjadi.. Andai aku lebih peka, mungkin ini semua tidak perlu terjadi..

Ingin rasanya mengembalikan waktu, tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan perpecahan. Ingin rasanya minta Tuhan kembalikan aku dimana aku ada bersama dia, tidak ada kesedihan, tidak ada kemarahan, tidak ada sakit hati, tidak ada ketidaknyamanan, yang ada hanya sukacita yang besar, matahari yang bersinar, berkat-berkat, kenangan-kenangan manis.


Sunday, October 17, 2010

empty space

Apa sih ruang itu, sampai sedemikian pentingnya dan bikin perasaan benci meluap-luap?

Aku bukan cewek yang posesif. Bukan cewek yang minta laporan 24 jam dalam sehari apa yang dia lakukan, sama siapa, ngapain aja. Sama sekali tidak. Pada jam kerja, saat dia tidak mau diganggu, aku tidak pernah ganggu. Sedangkan sebaliknya, jika aku dalam keribetan pekerjaan pun, pasti aku ladeni. Anyway, itu dari sisiku sih.

Aku hanya minta, weekend kita bisa ngobrol, walaupun tidak sempat ketemu, misalnya karena dia keletihan atau apa. Aku tahu, hari biasa aku sama sekali tidak bisa ganggu, karena dia kerja sampai malam dan jika sudah malam, dia sudah terlalu letih untuk bincang-bincang denganku. Atau dia mau buru-buru bercengkrama dengan keluarganya. Oke, aku mengalah. Pastinya, dibanding keluarga, aku entahlah urutan nomor berapa.

Semenjak ganti BlackBerry, sangat jarang sekali kita bertelepon. Mungkin ini salah satunya juga. Katanya BlackBerry itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Mungkin ada benarnya juga.

Aku tidak pernah keberatan dia pergi dan hangout dengan teman-temannya, dibanding aku.

Ngerinya, rupa-rupanya ada yang salah di sini. Aku mengira, memang demikianlah karakternya, kebiasaannya, sifatnya, sehingga aku pikir aku harus menyesuaikan diri dengan itu semua, mencari celah agar aku bisa nyaman dengan itu semua. Bagaimanapun, hubungan dua orang, harus saling menyesuaikan, toh?

SALAH.
Ternyata dia menginginkan RUANG. Waktu untuk berpikir. Dan saat aku tanya, kenapa dia tidak bilang, dia jawab dia pinginnya aku tahu tanpa dia harus bicara.

HALOOOO? Sini dukun emangnya??

Aku sakit hati. Sungguh. Setiap kali aku ajak bicara, dia selalu menghindar. Komunikasi seperti ini yang aku selalu perlu, supaya apa yang salah, bisa aku betulkan, tidak aku lakukan lagi. Aku ingin dia bicara mana yang tidak disukainya, mana yang tidak apa-apa. Supaya pada akhirnya, ada solusi, membuat kondisi nyaman bagi diri sendiri, dan menjadikan satu sama lain merasa nyaman. Bukannya menebak-nebak dan berakhir dengan prasangka, kesalahpahaman, dan buatku, kebencian.

Ini sangat tidak adil. Dia tidak adil.
Dan, seharusnya, jika saja dia sedikit pintar dan memperhatikan, kalau setelah beberapa waktu aku tidak berubah sesuai maunya dia, berarti ada yang salah kan? Yup, betul. Karena aku TIDAK BISA BACA PIKIRAN ORANG.

Kurang ruang apa lagi yang aku berikan? Aku membuang jauh-jauh semua egoku demi memberi dia ruang. Seperti yang aku ceritakan di atas, aku tipe orang yang ingin ngajak ngobrol terus, canda-canda terus, tapi karena dia sibuk, dia capek, dia banyak urusan, aku mengendalikan diri. Dulu aku pemarah, namun demi dia, aku menekan kemarahanku jika tidak semua keinginanku terpenuhi.

Kurang ruang apa lagi? Dua tahun lamanya aku memberikan ruang itu, ruang sialan itu, sejak dia putuskan aku, terombang-ambing tanpa status hubungan yang jelas. Dua tahun lamanya. Dan pemutusan itu dilakukan sepihak. Tanpa penjelasan. Dia ga tahu betapa aku berusaha keras memberi ruang itu kepadanya. Salahku juga, bahwa aku memutuskan untuk menunggu. Dahulu kupikir, karena keadaan akan membaik suatu hari nanti.

Aku terlanjur membuka diri dan membuka hati, dan yah, sakit hati dan remuk redam yang kudapat. Kini semuanya aku mau kasih Tuhan saja. Biar Dia yang buka, untuk seseorang entah siapa, jika sudah waktunya.

Akhirnya sekarang? Sakit hati dan kebencian yang meluap. Marah. Sedih.
Aku memblock dia dari twitterku.

Saturday, September 25, 2010

'me' thing

Aku benci bangun di pagi hari dengan mata sembab dan bengkak, namun masalahnya sekarang ini adalah aku melakukan hal yang akan membuatku bangun besok dalam keadaan demikian.

Aku tidak pernah bisa mengerti kenapa aku selalu melakukan hal yang justru bertentangan dengan rasio. Aku adalah seorang yang rasional, tapi menyangkut ini, sungguh aku berharap emotionless. Jadi aku tidak perlu berhadapan dengan selfishnessku sendiri.

Aku pergi ke rumahnya beberapa hari yang lalu. Panggil aku tolol, goblok, apalah. Aku mau kirimkan kue dan hadiah ulang tahun. Di sana aku bertemu dengan sebagian kecil keluarganya. Aku bertemu dengan seorang boneka, malaikat kecil berambut kriwil-kriwil dan pipi tembem, dan aku ingin bermain dengannya, tapi aku akan melanggar suatu batasan besar kalau melakukannya. Mereka menyambutku dengan amat baik.

Dan kami kembali kontak secara otomatis, tapi itu hal lain lagi.

Maksudku, kenapa sih aku tidak bisa menjadi bagian dari kehidupannya? Apakah aku sebegitu tidak pantas dan tidak sepadannya sehingga dia tidak mau menerimaku menjadi bagian dari kesehariannya, dari kehidupannya? Apa sih yang salah? Masalahnya, aku memang yang punya kekurangan besar di sini. Aku tidak bisa merespon ini dengan baik. Nasihat orang-orang, cara kita menghadapi suatu situasi tergantung cara kita merespon situasi tersebut. Dan aku memang tidak merespon ini semua dengan baik. Aku tidak bisa.

Aku kesepian. Apalagi dengan aku sekarang hanya sendirian di rumah, aku tidak punya teman di hari-hari istirahatku, and it really sucks. Kenapa aku tidak bisa pergi ke sana, main-main, merasakan kehangatan yang lain daripada kehangatan keluargaku sendiri (kalau kami lagi lengkap berkumpul)?

Aku butuh curhat. Aku butuh didengar. Masalahnya, orang kepada siapa aku ingin bercerita justru adalah orang yang ingin aku ceritakan.

Kesalahannya semua ada padaku. Aku tidak bisa menguasai keadaan dengan baik, aku tidak bisa merespon dengan baik, aku belum bisa menerima kebiasaan-kebiasaannya yang bikin aku sebal.

Astaga, ini baru 3 tahun doang, dan aku hampir-hampir ga tahan dengan diriku sendiri yang cengeng dan manja menghadapi ini. Ini ga ada apa-apanya dibanding orang-orang lain yang punya hubungan lebih lama lagi. Aku dan dia bahkan ga bisa disebut hubungan. Hubungan apa sih yang kami miliki? Astaga, kalau memikirkan ini, aku...ga tahu musti ngapain. Aku tahu, aku harus menyerahkan semuanya penuh-penuh padaNya. Dia yang akan memelukku dan mengatakan semua baik-baik saja, tapi kebodohanku sebagai manusia biasa yang lemah, aku capek, aku marah, aku sedih, dan aku bertanya padaNya.

Oke, sepertinya mataku makin buram.