Jujur, aku lelah dan bingung.
Aku bahkan tidak tahu apa yang aku inginkan. Aku ingin segala hal berkaitan dengannya, tapi pada saat yang sama aku ingin berhenti, aku tidak ingin tersakiti, aku tidak ingin lelah, aku tidak ingin sedih.
Masalahnya, seringkali hal-hal yang begitu kecil, yang sangat sepele, yang tidak dia sadari, kadangkala menyakiti perasaanku. Masalahnya lagi, di saat kemudian aku memutuskan untuk "Oke, saatnya berhenti!" dan melakukan beberapa hal seperti un-follow account twitternya, bertekad untuk tidak 'menengok' profile FB-nya untuk sekedar tahu kabarnya atau melepas sedikit rindu, perasaanku mendesakku sendiri dan aku tidak tahan untuk tidak melakukannya.. Dan pada saat aku 'mengintip', aku jadi marah pada diriku sendiri karena apa yang kulihat membuatku sedih, dan aku benci karena aku tidak bisa menahan diri.
Seorang sahabat menyarankan aku untuk jujur. Dan, jujur, aku punya beribu mimpi dengan melibatkan dia di dalamnya.. Namun, aku sendiri hampir-hampir tidak tahan dengan hal-hal yang membuatku tersakiti. Walaupun, dalam cetak miring, cetak tebal dan bergaris bawah, dia sama sekali tidak sengaja.
Orang yang menyakiti perasaanku justru adalah orang dengan siapa aku punya banyak mimpi; orang yang terakhir aku harapkan untuk menyakitiku.
Aku bermimpi, dia memasang foto kami di public profilenya. Begitu menyenangkan, begitu menghangatkan hati, dan aku terbangun dengan banyak harapan. Tapi, jujur, aku takut untuk berharap.
Aku ingin, tapi aku tak bisa. Baik dari sisi aku ingin terus berharap, maupun dari sisi aku ingin berhenti.
Apa yang harus aku lakukan..?
Jujur, aku bingung.
Saturday, May 15, 2010
Thursday, May 6, 2010
lepas
Releasing one of my biggest dreams isn't easy. Malah, sulit sekali. Sebuah mimpi yang, jujur, aku tidak tahu lagi apakah cukup realistis atau tidak. Sebuah mimpi yang, dahulu sebelum memulainya, nyaris tidak berani aku mulai.
Dulu aku teguh. Aku percaya, Dia akan memampukan aku melewati masa-masa sulit di awal membangun mimpi ini. Segala kenyataan-kenyataan yang luar biasa berat, yang langsung menerpa di titik awal, yang sebetulnya bisa saja membuatku berbalik seratus delapan puluh derajat tanpa berpikir lagi.
Namun ya mungkin sampai sini saja perjalananku yang luar biasa itu. Mungkin Dia berpendapat sudah cukup bagiku menjadi berkat baginya, di tempat ini, di waktu ini. Mungkin inilah waktunya aku bergerak, menjadi saluran berkat untukNya bagi orang lain lagi. Aku sampai pada titik di mana aku sadar, betapa pun aku berjuang, dengan doa yang kunaikkan tiap saat, tiap waktu, aku bukanlah yang terbaik baginya. Tapi aku bersyukur luar biasa bahwa aku boleh menjadi satu bagian dari kehidupannya, memiliki satu periode bersamanya. Dan yang paling disyukuri adalah aku akhirnya mengenal dengan jauh lebih baik, lebih akrab, dengan Dia.
Kami tidak memulai tahun 2010 dengan sangat baik. Kami baru bertemu di tahun 2010 ini pada bulan Februari. Dan menurut sudut pandangku, keadaan tidak sama lagi dengan dulu. Satu sama lain tidak lagi bisa memberi sejauh yang dapat diberikan. Tidak ada lagi cerita-cerita yang menyenangkan, membangun, bahkan sejauh perasaanku, semua dijalani hanya semata-mata terpaksa dan kewajiban.
Apa yang aku miliki buatnya masih sama. Malah, mungkin seiring aku melepaskan mimpiku, akan makin bertumbuh. Kasih itu tetap ada. Tapi saat ini kesedihan mendominasi pikiran dan perasaanku, karena aku tidak bisa menjadi yang terbaik baginya.
Dulu aku dimampukan melewati masa-masa berat, sekarang pun aku akan tetap dikuatkan melewati masa-masa yang sulit ini.
All the best for you, My Dear.
God bless you, now and forever.
Dulu aku teguh. Aku percaya, Dia akan memampukan aku melewati masa-masa sulit di awal membangun mimpi ini. Segala kenyataan-kenyataan yang luar biasa berat, yang langsung menerpa di titik awal, yang sebetulnya bisa saja membuatku berbalik seratus delapan puluh derajat tanpa berpikir lagi.
Namun ya mungkin sampai sini saja perjalananku yang luar biasa itu. Mungkin Dia berpendapat sudah cukup bagiku menjadi berkat baginya, di tempat ini, di waktu ini. Mungkin inilah waktunya aku bergerak, menjadi saluran berkat untukNya bagi orang lain lagi. Aku sampai pada titik di mana aku sadar, betapa pun aku berjuang, dengan doa yang kunaikkan tiap saat, tiap waktu, aku bukanlah yang terbaik baginya. Tapi aku bersyukur luar biasa bahwa aku boleh menjadi satu bagian dari kehidupannya, memiliki satu periode bersamanya. Dan yang paling disyukuri adalah aku akhirnya mengenal dengan jauh lebih baik, lebih akrab, dengan Dia.
Kami tidak memulai tahun 2010 dengan sangat baik. Kami baru bertemu di tahun 2010 ini pada bulan Februari. Dan menurut sudut pandangku, keadaan tidak sama lagi dengan dulu. Satu sama lain tidak lagi bisa memberi sejauh yang dapat diberikan. Tidak ada lagi cerita-cerita yang menyenangkan, membangun, bahkan sejauh perasaanku, semua dijalani hanya semata-mata terpaksa dan kewajiban.
Apa yang aku miliki buatnya masih sama. Malah, mungkin seiring aku melepaskan mimpiku, akan makin bertumbuh. Kasih itu tetap ada. Tapi saat ini kesedihan mendominasi pikiran dan perasaanku, karena aku tidak bisa menjadi yang terbaik baginya.
Dulu aku dimampukan melewati masa-masa berat, sekarang pun aku akan tetap dikuatkan melewati masa-masa yang sulit ini.
All the best for you, My Dear.
God bless you, now and forever.
Subscribe to:
Comments (Atom)