Tetap Kudus di Tengah Budaya Yang Rusak (jawaban.com, 22 April 2010)
Cinta Sejati Menunggu. Anda tentu pernah mendengarnya sebelumnya, dan mungkin Anda bahkan menandatangani kartu jaminan yang menyatakan bahwa Anda akan "menunggu" sampai Anda menikah untuk melakukan hubungan seks. Kedengarannya cukup sederhana, bukan? Tetapi hal tersebut tidak semudah kedengarannya karena tantangan budaya seks bebas yang melanda hari-hari ini.
Kita masih bisa berpacaran dan tetap bisa menjaga diri kudus sampai pernikahan. Namun kekudusan bukan hanya tentang tidak melakukan seks sampai Anda sudah menikah tetapi juga mencakup pola pikir dalam setiap area hidup Anda. Lalu bagaimana cara Anda menjaga kekudusan hidup Anda, berikut ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan :
1. Perhatikan bagaimana Anda berpakaian. Pakaian yang Anda kenakan mengirimkan pesan kepada orang-orang di sekitar Anda. Banyak gadis yang mengatakan bahwa mereka sedang menunggu (sampai mereka menikah untuk melakukan hubungan seks), tetapi mereka berpakaian dengan cara yang benar-benar berlawanan dan serba terbuka.
2. Berhati-hatilah dengan apa yang Anda lihat dan dengar. Gaya hidup yang kudus juga berarti menjaga pikiran dan hati kita. Anda harus mengawasi hal-hal apa yang Anda lihat dan dengarkan. Karena ada film-film atau musik tertentu yang memiliki dampak negatif yang bisa membuat Anda melakukan hal-hal yang tidak bermoral. Anda bisa benar-benar dipengaruhi. Jadi mengisi pikiran Anda dengan Firman Tuhan, apa yang dikatakan Tuhan, sangatlah penting untuk hidup dalam kekudusan.
3. Menentukan batas-batas dalam hubungan. Bila saat ini Anda sedang berpacaran, Anda dan pasangan Anda harus membicarakan apa yang sesuai dan batasan-batasan dalam hubungan Anda.
4. Miliki seseorang yang dapat dipercaya untuk mendukung Anda. Menemukan seseorang yang bisa mengawasi Anda sangat penting. Apakah itu teman-teman, kerabat, dan anggota gereja. Menjaga kekudusan adalah sebuah peperangan sehingga Anda perlu orang yang mendukung Anda.
5. Menjalin hubungan yang dinamis dengan Allah. Kekudusan adalah hasil dari hubungan yang dinamis dengan Tuhan. Jika Anda dekat dengan Tuhan, Anda akan berkata Anda akan menunggu karena Anda ingin menyenangkan hati Tuhan. Tuhan mengatakan bahwa kekudusan adalah hal yang penting sehingga Anda bisa percaya bahwa cara Allah adalah cara terbaik bagi Anda.
Thursday, April 22, 2010
Saturday, April 17, 2010
aku dan titik terang
Aku kira, terjawab sudah.
Pertanyaan yang terus bercokol di benakku selama dua tahun lamanya, mengenai apa yang sedang aku jalani, kami jalani, pergumulan yang aku hadapi, segala pertanyaan 'kenapa?' dan 'apa ini?', kukira akhirnya telah muncul titik terangnya.
Buku yang sangat menarik, sangat indah, sangat luar biasa menguatkan, sangat luar biasa menceritakan Tuhan. "When Dreams Come True" oleh Eric dan Leslie Ludy, sepasang suami-istri yang luar biasa, yang dipakai Tuhan menunjukkan keluarbiasaanNya, melalui tulisanNya yang luar biasa untuk kisah cinta mereka yang luar biasa.
Sebuah hubungan cinta yang luar biasa, bahkan kelihatan seperti 'too good to be true', yang pada kenyataannya memang sehebat itu. Mereka menjalani hubungan bukan pacaran, karena buat mereka pacaran hanya baru akan dijalani di kala mereka sudah siap menikah.
Dan mereka menunggu. Dalam konteks sebagai sahabat lawan jenis. Dalam penantian, mereka memohon dalam doa setiap waktu untuk dimurnikan, dibangun, memberi yang terbaik bagi Dia, menjadi yang terbaik dulu buat Dia, sampai tiba waktunya Dia sendiri yang menentukan kapan mereka siap. Mereka menanti dalam ketekunan, kesabaran. Menjalani kesedihan dan pergumulan yang ditimbulkan oleh karena penantian itu, namun tetap percaya sepenuhnya padaNya dan apapun jalanNya, tetap meyakini bahwa Tuhan sedang menulis kisah mereka. Walaupun mungkin apa yang Dia inginkan adalah mereka tidak bersatu. Bahkan mereka sampai nyaris membatasi keinginan Tuhan untuk mempersatukan mereka pada saat semua tanda-tanda sudah jelas! Membatasi kekuatanNya itu bagian yang jangan ditiru, namun ketekunan, kesabaran, serta keinginan untuk memberi diri yang terbaik bagi Dia dan bagi calon pasangan kelak, itu yang luar biasa dan harus diacungi jempol.
Pemurnian itu bukan sekedar secara fisik, namun juga pikiran. Mereka masing-masing pun punya dorongan fisik, namun mereka menunggu. Bagaimanapun, sesuatu yang untuk memperolehnya dibutuhkan kesabaran dan ketekunan, pada saat akhirnya diperoleh kelak, akan sangat luar biasa rasanya.
Dalam penantian dan pencarian itu (yang padahal sudah di depan mata), mereka mengerti bahwa untuk bisa memberikan yang terbaik bagi calon pasangan mereka jika mereka sudah memberi dan menerima yang terbaik bagi Dia. Oleh karena itu pasangan ini belajar untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi, melayani Bapa dengan lebih sungguh. Itulah inti menjadi single. Tuhan sedang mempersiapkan setiap lajang untuk menjadi yang terbaik bagi calon pasangan mereka kelak, dengan caraNya.
Melalui kisah cinta yang luar biasa ini, Tuhan menyatakan kuasaNya. Mataku pun terbuka, aku mendapat titik terang dari pergumulanku selama ini. Jadi memang inilah tujuanNya. Jika Dia bisa menuliskan kisah yang luar biasa bagi Eric dan Leslie Ludy, Dia juga akan menuliskan yang luar biasa untukku. Untuk kami.
Pertanyaan yang terus bercokol di benakku selama dua tahun lamanya, mengenai apa yang sedang aku jalani, kami jalani, pergumulan yang aku hadapi, segala pertanyaan 'kenapa?' dan 'apa ini?', kukira akhirnya telah muncul titik terangnya.
Buku yang sangat menarik, sangat indah, sangat luar biasa menguatkan, sangat luar biasa menceritakan Tuhan. "When Dreams Come True" oleh Eric dan Leslie Ludy, sepasang suami-istri yang luar biasa, yang dipakai Tuhan menunjukkan keluarbiasaanNya, melalui tulisanNya yang luar biasa untuk kisah cinta mereka yang luar biasa.
Sebuah hubungan cinta yang luar biasa, bahkan kelihatan seperti 'too good to be true', yang pada kenyataannya memang sehebat itu. Mereka menjalani hubungan bukan pacaran, karena buat mereka pacaran hanya baru akan dijalani di kala mereka sudah siap menikah.
Dan mereka menunggu. Dalam konteks sebagai sahabat lawan jenis. Dalam penantian, mereka memohon dalam doa setiap waktu untuk dimurnikan, dibangun, memberi yang terbaik bagi Dia, menjadi yang terbaik dulu buat Dia, sampai tiba waktunya Dia sendiri yang menentukan kapan mereka siap. Mereka menanti dalam ketekunan, kesabaran. Menjalani kesedihan dan pergumulan yang ditimbulkan oleh karena penantian itu, namun tetap percaya sepenuhnya padaNya dan apapun jalanNya, tetap meyakini bahwa Tuhan sedang menulis kisah mereka. Walaupun mungkin apa yang Dia inginkan adalah mereka tidak bersatu. Bahkan mereka sampai nyaris membatasi keinginan Tuhan untuk mempersatukan mereka pada saat semua tanda-tanda sudah jelas! Membatasi kekuatanNya itu bagian yang jangan ditiru, namun ketekunan, kesabaran, serta keinginan untuk memberi diri yang terbaik bagi Dia dan bagi calon pasangan kelak, itu yang luar biasa dan harus diacungi jempol.
Pemurnian itu bukan sekedar secara fisik, namun juga pikiran. Mereka masing-masing pun punya dorongan fisik, namun mereka menunggu. Bagaimanapun, sesuatu yang untuk memperolehnya dibutuhkan kesabaran dan ketekunan, pada saat akhirnya diperoleh kelak, akan sangat luar biasa rasanya.
Dalam penantian dan pencarian itu (yang padahal sudah di depan mata), mereka mengerti bahwa untuk bisa memberikan yang terbaik bagi calon pasangan mereka jika mereka sudah memberi dan menerima yang terbaik bagi Dia. Oleh karena itu pasangan ini belajar untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi, melayani Bapa dengan lebih sungguh. Itulah inti menjadi single. Tuhan sedang mempersiapkan setiap lajang untuk menjadi yang terbaik bagi calon pasangan mereka kelak, dengan caraNya.
Melalui kisah cinta yang luar biasa ini, Tuhan menyatakan kuasaNya. Mataku pun terbuka, aku mendapat titik terang dari pergumulanku selama ini. Jadi memang inilah tujuanNya. Jika Dia bisa menuliskan kisah yang luar biasa bagi Eric dan Leslie Ludy, Dia juga akan menuliskan yang luar biasa untukku. Untuk kami.
Saturday, April 3, 2010
aku ingin, aku ingin
Dua tahun, ya, besok adalah tepat 2 tahun.
Sudah sejauh itu, dan jujur, aku iri dengan pasangan-pasangan lain yang bisa saling memanggil "Sayang", bisa bertandang ke rumah satu sama lain dan berbasa-basi basi dengan orangtua, saudara, kakak atau adik. Aku iri dengan mereka yang bisa menulis dengan gamblang di halaman facebook atau twitter, sekedar ungkapan-ungkapan sederhana yang manis dan romantis. Bisa memasang foto berdua dengan orang terkasih.
Aku tahu aku ga boleh iri. Aku punya porsiku sendiri. Aku tahu rasa sayangnya, walaupun tidak pernah diungkapkannya. Aku punya 'kami' dengan keindahan kami sendiri, hal-hal lain yang tidak dimiliki pasangan-pasangan lain. Namun aku juga ingin ada bagian-bagian tertentu yang sama dengan pasangan lainnya. Bukannya bermaksud serakah.
Aku kangen dengan dia yang sewaktu baru awal-awal kenal dahulu. Aku kangen dengan gombalnya, aku kangen dengan diperhatikan hampir setiap saat.
Aku ga tahu apa persisnya yang aku rasakan. Tapi aku mendapati diriku terlalu sering menghela napas.
Sudah sejauh itu, dan jujur, aku iri dengan pasangan-pasangan lain yang bisa saling memanggil "Sayang", bisa bertandang ke rumah satu sama lain dan berbasa-basi basi dengan orangtua, saudara, kakak atau adik. Aku iri dengan mereka yang bisa menulis dengan gamblang di halaman facebook atau twitter, sekedar ungkapan-ungkapan sederhana yang manis dan romantis. Bisa memasang foto berdua dengan orang terkasih.
Aku tahu aku ga boleh iri. Aku punya porsiku sendiri. Aku tahu rasa sayangnya, walaupun tidak pernah diungkapkannya. Aku punya 'kami' dengan keindahan kami sendiri, hal-hal lain yang tidak dimiliki pasangan-pasangan lain. Namun aku juga ingin ada bagian-bagian tertentu yang sama dengan pasangan lainnya. Bukannya bermaksud serakah.
Aku kangen dengan dia yang sewaktu baru awal-awal kenal dahulu. Aku kangen dengan gombalnya, aku kangen dengan diperhatikan hampir setiap saat.
Aku ga tahu apa persisnya yang aku rasakan. Tapi aku mendapati diriku terlalu sering menghela napas.
Subscribe to:
Comments (Atom)