Friday, December 17, 2010

12 pertanyaan

Apakah seseorang di sana, sudah memenuhi kriteria ini? Apakah aku sudah memenuhi kriteria ini juga baginya?


Ketika sedang mempertimbangkan untuk berhubungan dengan seseorang, sangat penting bagi Anda untuk mempertimbangkan kerohanian dan keyakinan yang terlihat melalui cara mereka memandang hidup dan bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Penulis Lee dan Leslie Strobel mengatakan pertanyaan-pertanyaan berikut sangat penting untuk menjadi bahan pertimbangan sebelum Anda memutuskan untuk berkencan dengannya.

1. Dapatkah ia mengatakan waktu yang spesifik atau era tertentu kapan ia menerima karunia Kristus akan hidup yang kekal? Jika ia tidak dapat menentukan waktu pertobatannya atau setidaknya kerangka waktu saat di mana hal itu terjadi, maka mungkin saja hal itu memang tidak pernah terjadi. Dengarkan dengan hati-hati ketika ia berbicara mengenai imannya. Apakah ia mengandalkan perbuatan baik, ritual keagamaan, dan tersenyum untuk sampai ke surga atau apakah ia menggambarkan imannya pada satu titik untuk mengakui dosanya, berbalik dari jalan-jalannya yang salah kepada hidup, dan menerima Kristus sebagai pengampun dosa dan pemimpinnya? Kristus telah menyelamatkan kita bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan tetapi karena kasih karunia, sebagaimana yang tertulis di Titus 3:5.

2. Ketika ia membicarakan masa depan, adakah tempat untuk Tuhan di sana? Atau apakah ia membayangkan masa depan yang dirancangkannya sendiri? Apakah ia berbicara tentang mencari arahan Tuhan untuk hidupnya? Apakah ia memiliki rencana untuk melayani Tuhan dengan berbagai cara? Apakah ia terfokus untuk mencapai kesuksesan yang sementara atau bermakna kekal? Apakah ia ingin membuat perbedaan di dunia bagi Kristus? “Tapi satu hal yang saya lakukan,” ujar Rasul Paulus. Melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

3. Apakah ia bersedia untuk menunda kepuasaan sesaat sehingga kepuasan yang lebih besar dapat dinikmatinya di masa depan? Apakah ia tidak tinggal dalam pengajaran Alkitab yang mengatakan bahwa pengorbanan dan perjuangan seringkali diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang yang lebih besar? Atau apakah ia tanpa henti mengejar kesenangan jangka pendek dengan mengorbankan konsekuensi jangka panjang? “Agama yang sehat memanggil kita untuk tidak memanjakan diri kita sendiri dan hidup secara egois melainkan berkomitmen untuk hidup dalam kemurnian, kasih, memberi, tidak egois, disiplin dan terkadang gaya hidup yang tidak nyaman,” ujar Collins. “Hal ini tidak dimaksudkan untuk mencuri sukacita dan membuat hidup kita sengsara. Sebaliknya, hidup dalam pengabdian membawa ketenangan batin, kepenuhan hidup, dan janji bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik di masa depan.”

4. Bagaimana sikapnya terhadap orang lain? Apakah ia menggunakan orang lain hanya sebagai alat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan atau apakah ia benar-benar peduli dengan orang lain? Apakah ia bersikap sopan karena orangtuanya mengajari sopan santun atau karena ia tulus menghormati orang lain? Bagaimana ia memperlakukan mereka yang kurang beruntung dalam lingkungan sosial kita? Apakah ia peduli terhadap orang miskin? Apakah ia memiliki rasa keadilan sosial yang membuatnya ingin melihat keadaan orang miskin menjadi lebih baik, atau ia bersikap tidak peduli bahkan sinis terhadap mereka yang berkekurangan? Mereka yang mengolok-olok orang miskin, ujar Amsal 17:5, menunjukkan penghinaan kepada Penciptanya.

5. Apakah ia menunjukkan sifat-sifat Yesus? Apakah ia mengampuni mereka yang menyakiti dirinya atau apakah ia malah merencanakan balas dendam? Apakah ia bersikap murah hati terhadap orang lain? Apakah ia berdiri di atas kebenaran? Apakah ia peduli pada mereka yang miskin dan tertindas? Teman saya Gary Collins, seorang psikolog Kristen, mengatakan seperti ini: “Alkitab tahu benar akan orang Kristen yang kikir, dengki, biasanya tak kenal ampun, membenarkan diri sendiri maupun sombong. Tidak ada manusia sempurna dan setiap kita selalu tergoda untuk berbuat dosa, tapi pengikut Kristus sejati menunjukkan tanda-tanda untuk menjadi semakin serupa dengan masternya.”

6. Dengan siapa ia banyak menghabiskan waktunya? Anda dapat belajar banyak akan nilai-nilai hidup yang dianutnya dengan melihat dengan siapa ia bergaul. Apakah ia berkumpul dengan mereka yang kegiatan utamanya bukanlah sesuatu yang menyenagkan Tuhan atau apakah ia mencari hubungan dengan orang Kristen yang dapat mendorong ia untuk terus bertumbuh dalam iman dan kasih? Janganlah sesat, tulis 1 Korintus 15:33, pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.

7. Apakah ia perduli untuk mengabarkan Injil kepada mereka yang belum pernah mendengarnya? Mereka yang hatinya telah diubahkan Kristus merasa termotivasi untuk membagikan imannya kepada orang lain. Tapi mereka yang menjadikan Kristen tak lebih sebagai label tidak memiliki alasan untuk membawa pesan Yesus kepada orang lain. Salah seorang santo zaman dahulu pernah berkata, “Saya meragukan keselamatan seseorang yang tidak peduli akan keselamatan tetangganya.” Itu tidak berarti ia harus seperti Billy Graham, tapi ia mau berdoa untuk teman-temannya yang terhilang dan memanfaatkan peluang untuk melibatkan mereka dalam percakapan rohani sehingga mungkin ia bisa memberitahu mereka tentang Yesus.

8. Apakah ia jujur terhadap hal-hal kecil? Integritas berarti ada konsistensi antara keyakinan seseorang dengan perilakunya dan antara karakter dengan keyakinannya. Apakah ia memiliki reputasi sebagai seseorang yang dapat dipercaya atau apakah ia dikenal sebagai seseorang yang cerdik dan mengabaikan hal etis? Seorang wanita mengatakan karakter pacarnya terungkap ketika seorang pelayan secara tidak sengaja memberikan tagihan meja lain kepada mereka. Bukannya memberitahu kesalahan itu, ia malah mencoba untuk segera membayar jumlah tagihan yang lebih kecil dari seharusnya dan segera meninggalkan restoran tersebut sampai akhirnya wanita itu menghentikan pacarnya. Ketidak-jujuran kecil seringkali mengungkapkan keadaan sebenarnya dari isi hati seseorang. Orang saleh berjalan dengan integritas, tulis Amsal 20:7.

9. Melalui lensa seperti apakah ia memandang dunia? Setiap kita memandang kehidupan melalui satu jenis lensa. Cara pandang seseorang terhadap dunia menunjukkan gambaran besar yang akan mengarahkan keputusan-keputusan dan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kekristenan merupakan sebuah jalan untuk melihat dan memahami semua kenyataan. Apakah ia memisahkan kehidupan rohani dalam kehidupan kesehariannya ataukah imannya diintegrasikan ke dalam semua bidang kehidupannya? Apakah ia mengakui dan menerapkan Alkitab sebagai landasan untuk seumur hidupnya?

10. Apakah ia bertanggung-jawab atas setiap perbuatannya? Apakah ia segera mengakui kesalahan yang telah dilakukannya atau justru mencoba membenarkan tindakannya meskipun hal itu jelas-jelas salah? Apakah ia mengakui dosa yang dilakukannya atau menyalahkan orang lain untuk hal-hal yang ia lakukan? Orang percaya yang sehat tidak mencoba untuk lari dari masalah, menyalahkan orang lain atau menolak untuk mengakui tindakannya. Sebaliknya, ia akan mengakui dosa dan kesalahannya, meminta pengampunan dari Tuhan dan dari orang lain yang mungkin telah dirugikannya, membuat restitusi bila memungkinkan, dan melanjutkan hidup – dengan satu tekad untuk tidak membiarkan kesalahan yang sama terjadi lagi.

11. Apakah ia memiliki kerendahan hati? Yesus berbicara dengan tegas mengenai kesombongan, dan Mikha 6:8 mengatakan bahwa kerohanian sejati melibatkan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Apakah orang ini selalu berlaku benar? Apakah ia secara murah hati memuji kontribusi orang lain? Apakah ia selalu menempatkan dirinya sendiri terlebih dahulu dan berpikir bahwa ia tahu lebih baik daripada orang lain? Kerendahan hati bukanlah ketakwaan palsu yang menyangkal kekuatan Allah yang telah diberikan. Kerendahan hati tidak menempatkan kita di bawah dan berkubang dalam ketidak-amanan atau mengasihani diri sendiri. Kerendahan hati merupakan sebuah pengakuan dari hati yang menyadari bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan. Kerendahan-hati merupakan sebuah sikap yang membuka wawasan baru dan tidak mengedepankan ego maupun citra diri kita sendiri.

12. Apa yang ia pilih sebagai makanan pikirannya? Jenis buku apa yang ia baca, musik yang ia dengarkan, video game yang ia mainkan, situs internet yang ia kunjungi, dan film yang ia tonton? Filipi 4:8 berkata, Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Bagaimana seseorang mengisi pikirannya akan menjadikannya segambar dengan pikiran yang ia miliki. Sebagaimana Paulus mendesak agar setiap kita berubah oleh pembaharuan budi kita.


Wednesday, December 15, 2010

Yang aku tahu..

Aku tahu, aku sedang dipersiapkan.
Aku juga tahu, bahwa seseorang sedang disiapkan bagiku.
Aku tahu, waktuku belum tiba.
Namun aku juga tahu, perasaan rindu kala melihat teman-teman mengalaminya.
Aku tahu, masih banyak hal yang harus dikerjakan sebelum waktuku tiba.
Aku tahu, sekarang waktuku untuk menjadi diri sendiri, memberi diri untuk melayani.
Aku tahu, Ia akan menjadikannya pada waktunya.
Aku tahu, aku dalam penantian. Kala saatnya tiba, aku tahu bahwa semuanya layak ditunggu.

Aku tahu, pada waktunya kelak, akan luar biasa :)

Sunday, October 24, 2010

Penyesalan yang berulang

Tujuh hari berselang.

Kala pengampunan akhirnya dilepaskan dan segala kemarahan, kebencian menguap, yang tertinggal adalah penyesalan, kesedihan mendalam. Dan tentunya, kerinduan yang membuncah.

Aku hanya bingung, hal-hal yang kukira baik dan kulakukan, ternyata tidak sebaik itu. I tried my best, aku mengusahakan segalanya sekuatnya. Aku menyesal aku tidak cukup baik. Kalau saja aku mau berjuang lebih keras, mungkin semua ini tidak perlu terjadi.. Andai aku lebih peka, mungkin ini semua tidak perlu terjadi..

Ingin rasanya mengembalikan waktu, tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan perpecahan. Ingin rasanya minta Tuhan kembalikan aku dimana aku ada bersama dia, tidak ada kesedihan, tidak ada kemarahan, tidak ada sakit hati, tidak ada ketidaknyamanan, yang ada hanya sukacita yang besar, matahari yang bersinar, berkat-berkat, kenangan-kenangan manis.


Sunday, October 17, 2010

empty space

Apa sih ruang itu, sampai sedemikian pentingnya dan bikin perasaan benci meluap-luap?

Aku bukan cewek yang posesif. Bukan cewek yang minta laporan 24 jam dalam sehari apa yang dia lakukan, sama siapa, ngapain aja. Sama sekali tidak. Pada jam kerja, saat dia tidak mau diganggu, aku tidak pernah ganggu. Sedangkan sebaliknya, jika aku dalam keribetan pekerjaan pun, pasti aku ladeni. Anyway, itu dari sisiku sih.

Aku hanya minta, weekend kita bisa ngobrol, walaupun tidak sempat ketemu, misalnya karena dia keletihan atau apa. Aku tahu, hari biasa aku sama sekali tidak bisa ganggu, karena dia kerja sampai malam dan jika sudah malam, dia sudah terlalu letih untuk bincang-bincang denganku. Atau dia mau buru-buru bercengkrama dengan keluarganya. Oke, aku mengalah. Pastinya, dibanding keluarga, aku entahlah urutan nomor berapa.

Semenjak ganti BlackBerry, sangat jarang sekali kita bertelepon. Mungkin ini salah satunya juga. Katanya BlackBerry itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Mungkin ada benarnya juga.

Aku tidak pernah keberatan dia pergi dan hangout dengan teman-temannya, dibanding aku.

Ngerinya, rupa-rupanya ada yang salah di sini. Aku mengira, memang demikianlah karakternya, kebiasaannya, sifatnya, sehingga aku pikir aku harus menyesuaikan diri dengan itu semua, mencari celah agar aku bisa nyaman dengan itu semua. Bagaimanapun, hubungan dua orang, harus saling menyesuaikan, toh?

SALAH.
Ternyata dia menginginkan RUANG. Waktu untuk berpikir. Dan saat aku tanya, kenapa dia tidak bilang, dia jawab dia pinginnya aku tahu tanpa dia harus bicara.

HALOOOO? Sini dukun emangnya??

Aku sakit hati. Sungguh. Setiap kali aku ajak bicara, dia selalu menghindar. Komunikasi seperti ini yang aku selalu perlu, supaya apa yang salah, bisa aku betulkan, tidak aku lakukan lagi. Aku ingin dia bicara mana yang tidak disukainya, mana yang tidak apa-apa. Supaya pada akhirnya, ada solusi, membuat kondisi nyaman bagi diri sendiri, dan menjadikan satu sama lain merasa nyaman. Bukannya menebak-nebak dan berakhir dengan prasangka, kesalahpahaman, dan buatku, kebencian.

Ini sangat tidak adil. Dia tidak adil.
Dan, seharusnya, jika saja dia sedikit pintar dan memperhatikan, kalau setelah beberapa waktu aku tidak berubah sesuai maunya dia, berarti ada yang salah kan? Yup, betul. Karena aku TIDAK BISA BACA PIKIRAN ORANG.

Kurang ruang apa lagi yang aku berikan? Aku membuang jauh-jauh semua egoku demi memberi dia ruang. Seperti yang aku ceritakan di atas, aku tipe orang yang ingin ngajak ngobrol terus, canda-canda terus, tapi karena dia sibuk, dia capek, dia banyak urusan, aku mengendalikan diri. Dulu aku pemarah, namun demi dia, aku menekan kemarahanku jika tidak semua keinginanku terpenuhi.

Kurang ruang apa lagi? Dua tahun lamanya aku memberikan ruang itu, ruang sialan itu, sejak dia putuskan aku, terombang-ambing tanpa status hubungan yang jelas. Dua tahun lamanya. Dan pemutusan itu dilakukan sepihak. Tanpa penjelasan. Dia ga tahu betapa aku berusaha keras memberi ruang itu kepadanya. Salahku juga, bahwa aku memutuskan untuk menunggu. Dahulu kupikir, karena keadaan akan membaik suatu hari nanti.

Aku terlanjur membuka diri dan membuka hati, dan yah, sakit hati dan remuk redam yang kudapat. Kini semuanya aku mau kasih Tuhan saja. Biar Dia yang buka, untuk seseorang entah siapa, jika sudah waktunya.

Akhirnya sekarang? Sakit hati dan kebencian yang meluap. Marah. Sedih.
Aku memblock dia dari twitterku.

Saturday, September 25, 2010

'me' thing

Aku benci bangun di pagi hari dengan mata sembab dan bengkak, namun masalahnya sekarang ini adalah aku melakukan hal yang akan membuatku bangun besok dalam keadaan demikian.

Aku tidak pernah bisa mengerti kenapa aku selalu melakukan hal yang justru bertentangan dengan rasio. Aku adalah seorang yang rasional, tapi menyangkut ini, sungguh aku berharap emotionless. Jadi aku tidak perlu berhadapan dengan selfishnessku sendiri.

Aku pergi ke rumahnya beberapa hari yang lalu. Panggil aku tolol, goblok, apalah. Aku mau kirimkan kue dan hadiah ulang tahun. Di sana aku bertemu dengan sebagian kecil keluarganya. Aku bertemu dengan seorang boneka, malaikat kecil berambut kriwil-kriwil dan pipi tembem, dan aku ingin bermain dengannya, tapi aku akan melanggar suatu batasan besar kalau melakukannya. Mereka menyambutku dengan amat baik.

Dan kami kembali kontak secara otomatis, tapi itu hal lain lagi.

Maksudku, kenapa sih aku tidak bisa menjadi bagian dari kehidupannya? Apakah aku sebegitu tidak pantas dan tidak sepadannya sehingga dia tidak mau menerimaku menjadi bagian dari kesehariannya, dari kehidupannya? Apa sih yang salah? Masalahnya, aku memang yang punya kekurangan besar di sini. Aku tidak bisa merespon ini dengan baik. Nasihat orang-orang, cara kita menghadapi suatu situasi tergantung cara kita merespon situasi tersebut. Dan aku memang tidak merespon ini semua dengan baik. Aku tidak bisa.

Aku kesepian. Apalagi dengan aku sekarang hanya sendirian di rumah, aku tidak punya teman di hari-hari istirahatku, and it really sucks. Kenapa aku tidak bisa pergi ke sana, main-main, merasakan kehangatan yang lain daripada kehangatan keluargaku sendiri (kalau kami lagi lengkap berkumpul)?

Aku butuh curhat. Aku butuh didengar. Masalahnya, orang kepada siapa aku ingin bercerita justru adalah orang yang ingin aku ceritakan.

Kesalahannya semua ada padaku. Aku tidak bisa menguasai keadaan dengan baik, aku tidak bisa merespon dengan baik, aku belum bisa menerima kebiasaan-kebiasaannya yang bikin aku sebal.

Astaga, ini baru 3 tahun doang, dan aku hampir-hampir ga tahan dengan diriku sendiri yang cengeng dan manja menghadapi ini. Ini ga ada apa-apanya dibanding orang-orang lain yang punya hubungan lebih lama lagi. Aku dan dia bahkan ga bisa disebut hubungan. Hubungan apa sih yang kami miliki? Astaga, kalau memikirkan ini, aku...ga tahu musti ngapain. Aku tahu, aku harus menyerahkan semuanya penuh-penuh padaNya. Dia yang akan memelukku dan mengatakan semua baik-baik saja, tapi kebodohanku sebagai manusia biasa yang lemah, aku capek, aku marah, aku sedih, dan aku bertanya padaNya.

Oke, sepertinya mataku makin buram.

Saturday, September 18, 2010

tukang mimpi

Melihat judul blog sendiri, tiba-tiba tercenung: daydreamer.
Kenyataannya, walaupun mati-matian aku berusaha menjadi manusia yang berpijak pada logika, realita, bahkan cenderung kritis, aku tetaplah seorang pemimpi. Banyak mimpi yang ingin aku raih, aku wujudkan, aku rintis.

Aku merintis kesuksesanku. Tuhan memberiku jabatan yang baik, kapasitas yang terus bertambah, pekerjaan yang luar biasa.

Aku merintis masa depanku.

Aku tetap bermimpi sebagai seorang perempuan, yang akan mengakhiri kebebasan diri sendiri suatu saat nanti, entah dengan siapa Tuhan memberikanku kepadanya.

Di hati kecilku, jauh di dasar, sebersit keinginan untuk kembali, tetap ada. Di permukaan hati, aku selalu memelihara apa yang sudah terbangun 3 tahun terakhir ini. Tidak pernah berubah. Hanya saja, mungkin saat ini kami terpisah untuk bisa menjadi lebih baik di masa depan. Untuk berkaca, merefleksi diri, memperbaiki diri, menemukan kembali tujuan-tujuan sebenarnya dalam hal apapun, yang mungkin sempat tertunda atau menjadi agak buram karena berada di dalam lingkaran. Bagaimanapun, kita harus keluar dulu dari lingkaran untuk bisa melihat ke dalam, menemukan kesalahan-kesalahan dan memperbaikinya, sebelum bisa kembali ke dalamnya.

Aku selalu ada di sini.
Aku selalu menunggu.

Sunday, September 12, 2010

What next..?

Waktu akan menjawab, Tuhan akan memulihkan dan menguatkan.

Sekali lagi, ketekunanku menemui batasnya. Bingung dan marah karena ketidaktahuan, aku mengambil keputusan. Sekali lagi.

Aku berdoa, berdoa dan berdoa, dan pada saat aku memutuskannya, aku berada dalam kondisi yang tenang. Sangat tenang. Tidak tahu kapan akan tiba-tiba tertabrak kereta lagi. Mungkin kali ini aku sudah siap. Aku harap tidak ada lagi airmata yang tercurah.

Mungkin alasannya selama ini menundaku adalah karena ketidakenakan atau iba, aku bukan yang terbaik buatnya. Alasannya menunda kejelasan status denganku, alasannya menunda aku bisa dikenalkan kepada keluarganya dan aku memperkenalkan dia kepada keluargaku.

Dulu dia pernah bilang supaya aku tidak menyimpan unek-unek. Pada kenyataannya? Entah aku yang terlalu gugup untuk mendiskusikannya dengan dia, ataupun setiap kali aku mengajaknya bicara, dia menolak. Aku harap bukan sepenuhnya salahku bahwa akhirnya jadi snowball effect.

Semenjak dia bekerja, dia berubah. Aku mencoba memaklumi bahwa lingkungannya memang mempengaruhi dia. Semenjak dia pulang berlibur, dia semakin berubah. Dan aku tidak tahu lagi apa yang dia alami, dan aku tidak bisa menempatkan posisiku mengerti dia, karena dia pun jarang bercerita.

Ketidakberaniannya untuk memutuskan sesuatu; aku bilang dia pun tidak tahu kita ini mau apa. Kenyataannya memang begitu. Sampai kapan aku harus menunggu? Apa yang harus kutunggu?

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Doaku supaya Tuhan menenangkan aku; supaya Dia memberikan jalan keluar buat kami.

Saturday, September 4, 2010

Abu-abu

Kalau aku boleh bertanya pada Tuhan, banyak sekali yang ingin kuajukan, namun setelah kupikirkan kembali, intinya hanya satu: KAPAN.

Aku sudah berusaha menanyakan ini padanya. Yah, asal tahu aja, berbulan-bulan kubutuhkan untuk membangun nyaliku demi menanyakan hal ini, tapi aku tidak mendapatkan jawaban. Aku kecewa, kalau aku boleh kecewa.

Kapan semuanya boleh menjadi putih atau hitam sekalian? Sampai kapan harus menunggu? Kenapa aku harus terus berada di area abu-abu, tidak bisa berada di wilayah yang jelas? Kenapa aku tidak bisa menentukannya sendiri?

Aku ingin tidak egois dengan menyimpan semuanya sendiri, tapi semakin hari kudapati semua emosiku bergulung-gulung dan jadi snowball. Serba salah. Katanya ga boleh menyimpan, tapi kalau aku ungkapkan, aku jadi egois dan manja.

Sejujurnya aku teramat lelah.
Bingung harus apa, bagaimana.
Awalnya bisa menepis prasangka, namun lama kelamaan aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa aku bukan siapa-siapa; aku tidak perlu dijadikan prioritas; aku mungkin tidak cukup baik untuk itu, namun karena ketidakenakan akhirnya ya sudah dijalani saja, mau tidak mau.

Tapi aku tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan. Aku takut kehilangan.

Friday, August 20, 2010

Tapi aku jalan di tempat..

Keadaan membaik, namun perasaanku berkata ada sesuatu, yang sangat samar, yang hilang.. Dan aku tidak tahu apa. Aku lebih berusaha untuk mengabaikannya daripada mengetahui apa itu.

Tapi aku jalan di tempat..
Seperti yang dibilang 'it takes two to tango', aku tidak bisa bergerak sendirian. Ingin diskusi, tapi dia memilih untuk tidak. Dan aku terlalu takut untuk memaksa, aku takut merusak moment, aku takut tidak puas dengan hasilnya, pokoknya aku takut. Karena, saat aku memaksa, pasti aku akan menyesal. Dan aku tidak mau itu.

Tapi aku jalan di tempat..
Tidak tahu harus ke mana, tidak tahu harus memutuskan apa, tidak tahu harus menengok ke mana, tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu apa yang sebaiknya kulakukan. Aku berdoa tiap saat, sampai segala alternatif aku naikkan dalam doa, tapi jawaban pun belum datang.

Tapi aku jalan di tempat..
Serba salah. Ada saat-saat di mana aku ingin berhenti melangkah, namun aku tidak mau kehilangan.. Seseorang yang mungkin, sampai saat ini, adalah yang terbaik bagiku. Seseorang yang, tiga tahun lalu, aku diberi kesempatan olehNYA untuk mengenal dia.

Tapi aku jalan di tempat..

Monday, June 21, 2010

akal

Aku kehilangan akal. Aku kehilangan kewarasanku. Hanya paksaan untuk kerja sajalah yang bisa sedikit mengalihkan kekacauan pikiranku. Sisanya? Meleng sedikit, aku pasti melamun. Kosong, tidak bisa berpikir, kehilangan fokus. Bahkan sejujurnya, aku tidak tahu apa yang aku perlakukan sebagai fokus.

Mataku masih amat sehat, dengan lancarnya berproduksi. Bahkan di kala aku terbangun pukul tiga pagi. Mungkin shift malamnya lagi on-onnya.

Aku tidak punya kekuatan sama sekali. Aku bahkan kehilangan keyakinan. Aku tidak yakin akan apa pun juga. Tidak seharusnya aku bertanya "Kenapa?" namun aku tidak bisa hindari, itulah yang setiap saat muncul di kepalaku.

Aku bergerak seperti robot, dan di kala tidak bergerak, aku bersedih.
Seandainya, hanya seandainya, aku tidak punya hati, tidak punya emosi, tidak akan begini jadinya..

Wednesday, June 16, 2010

mengambang

Aku tidak bisa berkutik. Yang bisa kulakukan hanya berdoa dan berharap penuh padaNya.

Aku tidak mau melakukan sesuatu yang bodoh, yang mengancam posisiku karena mengancam posisinya. Aku tidak tahu kapan aku bisa bergerak dan melakukan sesuatu, dan aku tidak tahu sesuatu itu apa. Aku tidak tahu apa yang boleh dan yang tidak.

Aku pikir aku harus menempatkan diri di sepatunya.

Dorongan kuat untuk menjerit, berteriak, dan bahkan melukai diri sendiri, tetap ada. Hanya demi ada yang mengalihkan pikiranku.

Aku merasa seperti mengambang. Tidak jelas, ke kiri atau ke kanan, tenggelam atau berenang.

Monday, June 14, 2010

sesal

Betul kan? Betul kan??

Penyesalan selalu datang terlambat, dan aku selalu menyesal! Kenapa tidak pernah melakukan sesuatu dengan perhitungan matang, ga pernah memikirkan setelahnya bagaimana, dan segalanya! Dasar impulsif! Sekarang semuanya kacau.. Dengan kekacauan, aku sadar apa yang aku inginkan adalah bersamanya. Mendampinginya, menemaninya, menjadi orang yang ada di sana saat ia membutuhkan.. Kini aku benar-benar hanya bisa mengandalkan Dia untuk membereskan semua kekacauan yang aku perbuat. Tak ada lagi kekuatanku..

Terlintas, bahkan sudah setengah jalan, aku memutuskan melakukan trik yang lama seperti dulu, menunggu sampai ia datang. Namun yah, ia sudah sangat mengenalku. Ia menolak, dan ketika aku 'memaksanya', ia memintaku untuk tidak melakukannya, atau ia bahkan akan berpikir lebih serius untuk kembali menemuiku. Aku kalah.. Tidak ada cara lain selain menunggunya, dan menunggu, dan menunggu.
Aku tidak boleh menjadi bodoh kali ini. Aku tidak punya hikmat saat ini, aku tidak bijak kali ini, aku tidak bisa berpikir kali ini, namun aku berdoa supaya aku tidak bodoh lagi. Semua keputusanku, apa yang aku lakukan, apa yang aku pilih akhir-akhir ini malah berbuntut kacau. Aku tidak tahu lagi mana yang benar mana yang salah; aku tidak tahu apakah yang aku lakukan benar atau tidak.

Ia sedih dan marah. Aku tahu. Dan aku sama sekali tidak menyalahkannya. Aku yang selalu egois, manja, berubah-rubah pikiran, labil, tidak jelas, tidak bisa memutuskan apa pun. Dan yang juga membuatku sedih adalah, mengapa ini semua harus terjadi dulu, baru aku bisa berpikir jelas. Baru dia menyadari bahwa di usianya sekarang, dia sudah harus menentukan sikap.

Hati kecilku, entah mengapa, berkata bahwa ini hanyalah sementara. Bahwa pada akhirnya keadaan akan dipulihkan, dan ada 'kami'. Namun aku tidak mau gegabah. Semua akan diatur olehNya. Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa, dan berdoa..

Friday, June 11, 2010

secarik surat

Engkau yang di sana,

Sama sekali ga pernah terbayang bahwa kita akhirnya mengalami ini, sekarang, dan yang menyedihkannya, aku yang membawa kita menjadi begini.

Salah satu mimpi terbesarku melibatkan kamu. Namun seiring waktu, aku sadar aku mungkin bukan yang terbaik bagi kamu. Keinginan terbesarku sekarang adalah kamu bahagia, walaupun mungkin harus ditempuh dengan aku melepaskan kamu dan melepaskan mimpi itu. Apalah arti sedikit kesakitanku, daripada aku malah menyakiti kamu terus dengan ga bisa berikan yang terbaik.

Apa yang ada di hatiku sedikitpun tidak pernah berubah, tidak pernah berkurang. Tapi bagaimanapun kamu adalah milikNya, bukan milikku, dan aku tidak berhak menghalangi segala kebaikan yang akan diberikanNya kepada kamu.

Saat ini aku dalam ketenangan yang luar biasa karenaNya, tapi aku sangat mengantisipasi kelak jika akhirnya aku terbangun dalam kesadaran bahwa aku melepaskan kamu, dan itu akan menghantamku luar biasa. Mungkin aku akan kehilangan kewarasanku. Tidak, sedikitpun tidak berlebihan seperti selalu kamu bilang, karena memang demikianlah adanya.

Aku sadar, mungkin segala perasaan itu telah berkurang dari dalam diri kamu. Perasaan yang dulu kamu tujukan buatku dan sebaliknya. Kita sudah tidak seperti dulu lagi. Aku makin jarang juga mengerti kamu, dan parahnya, aku semakin tidak bisa menghormati kamu. Aku selalu saja bikin kamu kesal, marah, bosan. Aku terpaksa lakukan ini semua bukan karena aku marah padamu, bukan karena disakiti oleh kamu, bukan karena kesalahan kamu, tapi karena aku yang sudah terlalu banyak menyakiti kamu.

Namun yaaa.. Demikianlah adanya. Mungkin airmataku akan terus tertumpah untuk beberapa waktu lamanya, tapi kita masih sama-sama punya Dia, Sang Penghibur. Maafkan aku karena menyakiti kamu dengan ini semua, tapi ini adalah yang terakhir.

Dan kamu akan menapaki lembaran baru yang jauh lebih luar biasa daripada ini semua :)

Saturday, May 15, 2010

jujur

Jujur, aku lelah dan bingung.

Aku bahkan tidak tahu apa yang aku inginkan. Aku ingin segala hal berkaitan dengannya, tapi pada saat yang sama aku ingin berhenti, aku tidak ingin tersakiti, aku tidak ingin lelah, aku tidak ingin sedih.

Masalahnya, seringkali hal-hal yang begitu kecil, yang sangat sepele, yang tidak dia sadari, kadangkala menyakiti perasaanku. Masalahnya lagi, di saat kemudian aku memutuskan untuk "Oke, saatnya berhenti!" dan melakukan beberapa hal seperti un-follow account twitternya, bertekad untuk tidak 'menengok' profile FB-nya untuk sekedar tahu kabarnya atau melepas sedikit rindu, perasaanku mendesakku sendiri dan aku tidak tahan untuk tidak melakukannya.. Dan pada saat aku 'mengintip', aku jadi marah pada diriku sendiri karena apa yang kulihat membuatku sedih, dan aku benci karena aku tidak bisa menahan diri.

Seorang sahabat menyarankan aku untuk jujur. Dan, jujur, aku punya beribu mimpi dengan melibatkan dia di dalamnya.. Namun, aku sendiri hampir-hampir tidak tahan dengan hal-hal yang membuatku tersakiti. Walaupun, dalam cetak miring, cetak tebal dan bergaris bawah, dia sama sekali tidak sengaja.

Orang yang menyakiti perasaanku justru adalah orang dengan siapa aku punya banyak mimpi; orang yang terakhir aku harapkan untuk menyakitiku.

Aku bermimpi, dia memasang foto kami di public profilenya. Begitu menyenangkan, begitu menghangatkan hati, dan aku terbangun dengan banyak harapan. Tapi, jujur, aku takut untuk berharap.

Aku ingin, tapi aku tak bisa. Baik dari sisi aku ingin terus berharap, maupun dari sisi aku ingin berhenti.

Apa yang harus aku lakukan..?
Jujur, aku bingung.

Thursday, May 6, 2010

lepas

Releasing one of my biggest dreams isn't easy. Malah, sulit sekali. Sebuah mimpi yang, jujur, aku tidak tahu lagi apakah cukup realistis atau tidak. Sebuah mimpi yang, dahulu sebelum memulainya, nyaris tidak berani aku mulai.

Dulu aku teguh. Aku percaya, Dia akan memampukan aku melewati masa-masa sulit di awal membangun mimpi ini. Segala kenyataan-kenyataan yang luar biasa berat, yang langsung menerpa di titik awal, yang sebetulnya bisa saja membuatku berbalik seratus delapan puluh derajat tanpa berpikir lagi.

Namun ya mungkin sampai sini saja perjalananku yang luar biasa itu. Mungkin Dia berpendapat sudah cukup bagiku menjadi berkat baginya, di tempat ini, di waktu ini. Mungkin inilah waktunya aku bergerak, menjadi saluran berkat untukNya bagi orang lain lagi. Aku sampai pada titik di mana aku sadar, betapa pun aku berjuang, dengan doa yang kunaikkan tiap saat, tiap waktu, aku bukanlah yang terbaik baginya. Tapi aku bersyukur luar biasa bahwa aku boleh menjadi satu bagian dari kehidupannya, memiliki satu periode bersamanya. Dan yang paling disyukuri adalah aku akhirnya mengenal dengan jauh lebih baik, lebih akrab, dengan Dia.

Kami tidak memulai tahun 2010 dengan sangat baik. Kami baru bertemu di tahun 2010 ini pada bulan Februari. Dan menurut sudut pandangku, keadaan tidak sama lagi dengan dulu. Satu sama lain tidak lagi bisa memberi sejauh yang dapat diberikan. Tidak ada lagi cerita-cerita yang menyenangkan, membangun, bahkan sejauh perasaanku, semua dijalani hanya semata-mata terpaksa dan kewajiban.

Apa yang aku miliki buatnya masih sama. Malah, mungkin seiring aku melepaskan mimpiku, akan makin bertumbuh. Kasih itu tetap ada. Tapi saat ini kesedihan mendominasi pikiran dan perasaanku, karena aku tidak bisa menjadi yang terbaik baginya.

Dulu aku dimampukan melewati masa-masa berat, sekarang pun aku akan tetap dikuatkan melewati masa-masa yang sulit ini.

All the best for you, My Dear.
God bless you, now and forever.

Thursday, April 22, 2010

Menunggu dan kudus

Tetap Kudus di Tengah Budaya Yang Rusak (jawaban.com, 22 April 2010)

Cinta Sejati Menunggu. Anda tentu pernah mendengarnya sebelumnya, dan mungkin Anda bahkan menandatangani kartu jaminan yang menyatakan bahwa Anda akan "menunggu" sampai Anda menikah untuk melakukan hubungan seks. Kedengarannya cukup sederhana, bukan? Tetapi hal tersebut tidak semudah kedengarannya karena tantangan budaya seks bebas yang melanda hari-hari ini.

Kita masih bisa berpacaran dan tetap bisa menjaga diri kudus sampai pernikahan. Namun kekudusan bukan hanya tentang tidak melakukan seks sampai Anda sudah menikah tetapi juga mencakup pola pikir dalam setiap area hidup Anda. Lalu bagaimana cara Anda menjaga kekudusan hidup Anda, berikut ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan :

1. Perhatikan bagaimana Anda berpakaian. Pakaian yang Anda kenakan mengirimkan pesan kepada orang-orang di sekitar Anda. Banyak gadis yang mengatakan bahwa mereka sedang menunggu (sampai mereka menikah untuk melakukan hubungan seks), tetapi mereka berpakaian dengan cara yang benar-benar berlawanan dan serba terbuka.

2. Berhati-hatilah dengan apa yang Anda lihat dan dengar. Gaya hidup yang kudus juga berarti menjaga pikiran dan hati kita. Anda harus mengawasi hal-hal apa yang Anda lihat dan dengarkan. Karena ada film-film atau musik tertentu yang memiliki dampak negatif yang bisa membuat Anda melakukan hal-hal yang tidak bermoral. Anda bisa benar-benar dipengaruhi. Jadi mengisi pikiran Anda dengan Firman Tuhan, apa yang dikatakan Tuhan, sangatlah penting untuk hidup dalam kekudusan.

3. Menentukan batas-batas dalam hubungan. Bila saat ini Anda sedang berpacaran, Anda dan pasangan Anda harus membicarakan apa yang sesuai dan batasan-batasan dalam hubungan Anda.

4. Miliki seseorang yang dapat dipercaya untuk mendukung Anda. Menemukan seseorang yang bisa mengawasi Anda sangat penting. Apakah itu teman-teman, kerabat, dan anggota gereja. Menjaga kekudusan adalah sebuah peperangan sehingga Anda perlu orang yang mendukung Anda.

5. Menjalin hubungan yang dinamis dengan Allah. Kekudusan adalah hasil dari hubungan yang dinamis dengan Tuhan. Jika Anda dekat dengan Tuhan, Anda akan berkata Anda akan menunggu karena Anda ingin menyenangkan hati Tuhan. Tuhan mengatakan bahwa kekudusan adalah hal yang penting sehingga Anda bisa percaya bahwa cara Allah adalah cara terbaik bagi Anda.

Saturday, April 17, 2010

aku dan titik terang

Aku kira, terjawab sudah.

Pertanyaan yang terus bercokol di benakku selama dua tahun lamanya, mengenai apa yang sedang aku jalani, kami jalani, pergumulan yang aku hadapi, segala pertanyaan 'kenapa?' dan 'apa ini?', kukira akhirnya telah muncul titik terangnya.

Buku yang sangat menarik, sangat indah, sangat luar biasa menguatkan, sangat luar biasa menceritakan Tuhan. "When Dreams Come True" oleh Eric dan Leslie Ludy, sepasang suami-istri yang luar biasa, yang dipakai Tuhan menunjukkan keluarbiasaanNya, melalui tulisanNya yang luar biasa untuk kisah cinta mereka yang luar biasa.

Sebuah hubungan cinta yang luar biasa, bahkan kelihatan seperti 'too good to be true', yang pada kenyataannya memang sehebat itu. Mereka menjalani hubungan bukan pacaran, karena buat mereka pacaran hanya baru akan dijalani di kala mereka sudah siap menikah.

Dan mereka menunggu. Dalam konteks sebagai sahabat lawan jenis. Dalam penantian, mereka memohon dalam doa setiap waktu untuk dimurnikan, dibangun, memberi yang terbaik bagi Dia, menjadi yang terbaik dulu buat Dia, sampai tiba waktunya Dia sendiri yang menentukan kapan mereka siap. Mereka menanti dalam ketekunan, kesabaran. Menjalani kesedihan dan pergumulan yang ditimbulkan oleh karena penantian itu, namun tetap percaya sepenuhnya padaNya dan apapun jalanNya, tetap meyakini bahwa Tuhan sedang menulis kisah mereka. Walaupun mungkin apa yang Dia inginkan adalah mereka tidak bersatu. Bahkan mereka sampai nyaris membatasi keinginan Tuhan untuk mempersatukan mereka pada saat semua tanda-tanda sudah jelas! Membatasi kekuatanNya itu bagian yang jangan ditiru, namun ketekunan, kesabaran, serta keinginan untuk memberi diri yang terbaik bagi Dia dan bagi calon pasangan kelak, itu yang luar biasa dan harus diacungi jempol.

Pemurnian itu bukan sekedar secara fisik, namun juga pikiran. Mereka masing-masing pun punya dorongan fisik, namun mereka menunggu. Bagaimanapun, sesuatu yang untuk memperolehnya dibutuhkan kesabaran dan ketekunan, pada saat akhirnya diperoleh kelak, akan sangat luar biasa rasanya.

Dalam penantian dan pencarian itu (yang padahal sudah di depan mata), mereka mengerti bahwa untuk bisa memberikan yang terbaik bagi calon pasangan mereka jika mereka sudah memberi dan menerima yang terbaik bagi Dia. Oleh karena itu pasangan ini belajar untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi, melayani Bapa dengan lebih sungguh. Itulah inti menjadi single. Tuhan sedang mempersiapkan setiap lajang untuk menjadi yang terbaik bagi calon pasangan mereka kelak, dengan caraNya.

Melalui kisah cinta yang luar biasa ini, Tuhan menyatakan kuasaNya. Mataku pun terbuka, aku mendapat titik terang dari pergumulanku selama ini. Jadi memang inilah tujuanNya. Jika Dia bisa menuliskan kisah yang luar biasa bagi Eric dan Leslie Ludy, Dia juga akan menuliskan yang luar biasa untukku. Untuk kami.

Saturday, April 3, 2010

aku ingin, aku ingin

Dua tahun, ya, besok adalah tepat 2 tahun.

Sudah sejauh itu, dan jujur, aku iri dengan pasangan-pasangan lain yang bisa saling memanggil "Sayang", bisa bertandang ke rumah satu sama lain dan berbasa-basi basi dengan orangtua, saudara, kakak atau adik. Aku iri dengan mereka yang bisa menulis dengan gamblang di halaman facebook atau twitter, sekedar ungkapan-ungkapan sederhana yang manis dan romantis. Bisa memasang foto berdua dengan orang terkasih.

Aku tahu aku ga boleh iri. Aku punya porsiku sendiri. Aku tahu rasa sayangnya, walaupun tidak pernah diungkapkannya. Aku punya 'kami' dengan keindahan kami sendiri, hal-hal lain yang tidak dimiliki pasangan-pasangan lain. Namun aku juga ingin ada bagian-bagian tertentu yang sama dengan pasangan lainnya. Bukannya bermaksud serakah.

Aku kangen dengan dia yang sewaktu baru awal-awal kenal dahulu. Aku kangen dengan gombalnya, aku kangen dengan diperhatikan hampir setiap saat.

Aku ga tahu apa persisnya yang aku rasakan. Tapi aku mendapati diriku terlalu sering menghela napas.

Thursday, February 11, 2010

aku ingin

Aku mendengar quote ini di sebuah film Mandarin (yang secara kebetulan ketangkap di tv kabel), kurang lebih bahwa seorang perempuan ingin mandiri, namun tetap ingin membutuhkan seorang laki-laki, dan seorang perempuan ingin mengendalikan segala hal, namun tetap ingin untuk diatur dan mematuhi seorang laki-laki.

That is so true. Paling tidak, menurut sudut pandangku. Ya, betul, aku ingin bisa mengatur semua hal yang aku inginkan, tapi aku juga ingin diatur. Aku menyukai kebebasan, tapi aku juga ingin dilindungi dan dijaga.

Jangan salah kira. Aku diberi kebebasan yang tidak terbatas, yang mana harus aku sendiri yang memagari diriku sendiri. Tidak pernah ia mengekangku, tidak pernah ia bersikap posesif dan memilikiku untuk dirinya sendiri. Ia menghormati kebebasanku, sepenuhnya. Aku bersyukur karenanya. Namun aku adalah seorang perempuan. Aku tetap ingin dipimpin. Tidak pernah sekalipun ia cemburu, namun terkadang aku ingin itu.

Aku ingin ia memilihkan sesuatu untukku. Menentukan sesuatu untukku. Mengaturku, bukan selalu menyerahkan kepadaku untuk memutuskan. Karena terkadang, yang penting buatku hanyalah bersamanya.

Aku sampaikan ini padanya, tapi aku takut ia menjadi tidak nyaman. Dan nyatanya memang demikian. Aku benci membuat dia merasa tidak nyaman, tapi di lain pihak aku mengungkapkan apa yang aku inginkan..

Ah, bingung.

Wednesday, January 6, 2010

berlebihan

Baru satu minggu pertama di tahun 2010 dan kepalaku sudah terkena migren berulang kali. Yang tidak kalah adalah tetesan airmata yang dicurahkan.

Berlebihan mungkin, tapi aku nyeri.

Tidak satupun sms dibalas. Twitternya menyatakan pagi ini dia berangkat ke Cengkareng untuk ke London. Aku tidak mengerti. Aku bingung. Aku tidak tahu apakah dia main-main, atau serius. Mungkin hanya main-main, tapi dia bukan pembohong.. Jadi aku harus percaya yang mana?

Postinganku sebelumnya salah besar. Aku kira aku mulai kehilangan rasa kangen, tapi ternyata aku amat terkejut, marah dan sedih. Tanpa alasan dan berlebihan memang. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin memang saat ini aku dilatih untuk tidak memandang sesuatu secara berlebihan, terutama jika berhubungan dengan hati.

Tadi siang toh dia sms.. Walau tidak balas lagi waktu aku balas. Dengan esia..
Jadi mungkin aku memang berlebihan.

Twitter

Kami berdamai lewat Twitter.

Mereply posting teman yang menanyakan soal hamil dan menyusui, malah dia yang membalasku. Keesokan harinya juga. Sore harinya aku terkejut sekaligus senang melihat namanya muncul di inbox sms. Hanya beberapa kali saja, tapi cukup :)

Aku bingung, apakah harus senang atau waswas karena aku mulai terbiasa dengan ketidakhadirannya. Mulai tidak mencari-carinya dan mulai tidak terlalu memikirkannya. Mulai tidak terlalu merindukan dia. Aku tahu dia pasti baik-baik saja. Aku tidak tahu apakah ini merupakan tanda bahaya atau memang seharusnya begini. Namun yang pasti, tidak ada sedikitpun perasaan berkurang.

Sunday, January 3, 2010

I have found all those in you

Pagi tadi ia mengirimkan sms mengucapkan selamat hari Minggu. Aku balas, sama-sama, dan selamat melayani. Entah dia pelayanan di mana.

Jam 11 siang dia sms. Ternyata salah kirim. Dan dia kirim sekali lagi, sori salah kirim. Aku pikir sisi positifnya saja, bahwa ia mengirimkan sms beberapa kali (walaupun judulnya salah kirim). Setelah aku pikir-pikir, aku jadi ketawa sendiri karena dia pasti tengsin.

Sore tadi pendeta berkhotbah tentang perbedaan laki-laki dan perempuan.
Seorang laki-laki:
-Berkuasa. Jiwa seorang laki-laki adalah memimpin pasangannya, dan berkuasa. Memutuskan hal-hal yang harus diputuskan.
-Ingin dipuja. Laki-laki senang dipuja oleh pasangannya.
-Ingin dilayani. Bukannya dia tidak bisa melakukannya sendiri, tetapi ia senang dilayani pasangannya.
-Ingin dianggap hebat.
-Bebas tapi ada batasan. Tidak ada gunanya pasangannya mengekang dia.
-Butuh dorongan. Dia akan berhasil dengan dorongan dari pasangannya.

Seorang wanita:
-Berjiwa emosional.
-Ingin dihormati oleh pasangannya.
-Mendambakan pasangan yang: humoris, taat, setia, menghormati dia, romantis.
-Bersifat indah, makhluk estetika. Senang dengan hal-hal indah, terutama yang diberikan pasangannya.

Aku menemukan semuanya dalam dirinya. Dia yang membuatku tertawa kalau aku kesal, dia yang menasihatiku kalau aku ragu dan goyah, dia yang mendoakanku untuk yang terbaik, dia yang selalu bersamaku (paling tidak aku tahu benar hatinya bersamaku), dia yang menghormati keinginan-keinginanku, menghormatiku sebagai seorang perempuan, dia yang memegang tanganku, dia yang mengecup pipiku dan membelai rambutku. Dan sejuta bukti lainnya, dan sejuta hal lainnya.

Kenapa aku masih sering bertanya-tanya? Aku seharusnya bersyukur.
Aku telah menemukan semua dalam dirinya.

That's why I love you.

Saturday, January 2, 2010

mistakes and quote

Sabtu malam dan sempat hujan.

Sendirian saja, tapi hujan di malam hari, juga Sabtunya, memunculkan banyak kenangan dan keinginan. Dia menyukai hujan di malam hari dan berdua di mobil. Dan aku menyukai segalanya tentang hal itu, termasuk karena harinya. Tapi hari ini aku tidak bisa mewujudkannya. Mengharapkannya terjadi hari ini saja tidak mungkin.

Aku memilih waktu yang salah untuk bertindak bodoh. Menjelang menyeberangi tahun, kami malah berjauhan. Aku yang membuatnya terjadi. Seperti anak kecil saja, ingin selalu diperhatikan. Bikin kacau. Jadinya? Aku yang terlalu memaksakan keadaan, malah membuatnya takut. Aku sadar, aku harus mundur dan memberinya ruang gerak. Walaupun menyakitkan, aku lakukan. Bagaimanapun, aku harus menghormati keinginannya. Aku coba lakukan apapun demi kebaikannya, karena itu akan menjadi kebaikanku juga.

Aku kangen dia. Sungguh.
Aku kangen noraknya dia.

Status facebooknya tadi siang membuat perasaanku bercampur. “Berharap yang terbaik dari Sorga untuk seseorang yang hatinya penuh kasih, kemurahan dan kerelaan.. I really love you! Thank you sooo much..”

Aku mau itu aku. Aku sungguh ingin itu aku. Hanya sekali aku mendengar kalimat itu terucap darinya, dan aku sungguh ingin mendengarnya lagi. Atau paling tidak, menuliskannya untukku. Aku memilih untuk yakin itu aku. Aku ingin geer. Aku ingin menikmati rasanya mempercayai itu adalah untukku, sebelum aku tahu kepada siapakah itu sebetulnya ditujukan.

Aku kangen dia.

Di gereja kemarin malam, aku melihat dia di kejauhan. Sebelumnya aku sama sekali tidak berharap untuk melihatnya. Tapi mataku dan hatiku yang entah kenapa ini, selalu bisa menemukannya bahkan di antara banyak sekali orang. Aku senang melihatnya, tapi pada saat yang sama aku amat sedih dan berkecamuk segala perasaan. Dia baik-baik saja, dan ganteng seperti biasa.

Aku kangen dia.

daydreamer

Akulah si pemimpi. Daydreamer.

Aku senang berandai-andai, berangan-angan.

Ini kisahku. Romantismeku.

Seorang sagitarius adalah petualang. Cenderung egosentrik. Mudah jatuh hati pada seseorang atau sesuatu dengan alasan dangkal, hanya karena sekali lihat atau apa yang terbaca di permukaan.

Menjalani dua tahun penuh romansa dengan menyandang status 'single and unavailable'. Salah satu kondisi 'mudah jatuh hati dengan alasan dangkal' yang berubah menjadi 'terjatuh dengan rela menuju kedalaman'.

Inilah hatiku.