Aku mulai merasa sangat tidak aman. Semuanya mulai terasa semu dan hanya harapan kosong belaka. Mimpi konyol belaka. Ada di mana sih aku? Ada di mana sih kita? Apa sih yang kita lakukan? Dan semuanya bertubi-tubi. Aku diabaikan, aku disisihkan. Mungkin saja aku hanya pelengkap penderita. Dan aku mengambil keputusan. Bukan keputusan semalam, melainkan sesuatu yang sudah aku gumuli selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan mungkin juga beberapa tahun.
Kupikir, kalau memang bukan aku, mungkin aku hanya diperbolehkan 'menggarami' sepenggal waktu dan periode saja, kemudian berpindah lagi menjadi berkat bagi orang lain.. Dan itulah yang aku sampaikan. Aku sendiri tak tahu apakah aku harus gembira atau harus marah kala ia menyatakan tidak siap bertemu denganku, tidak siap untuk bicara panjang lebar. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti berkomunikasi untuk sementara waktu.
Berat, namun kupikir memang itu yang terbaik. Kupikir, kalau memang selepas itu akhirnya kami betul-betul 'lepas' satu sama lain, ya mungkin memang sudah seharusnya begitu.
Itulah yang membuatku benar-benar merasa campur aduk saat akhirnya ia yang lebih dahulu menghubungiku. Dan itu pulalah yang lebih mengaduk-aduk perasaanku saat akhirnya kami bertemu lagi. Namun aku tahu, aku harus sangat berhati-hati.. Aku tidak mau terlena. Aku harus tetap waspada.
Namun bagaimana caranya kala semua perasaan yang tertahan sekian waktu mendesak ingin keluar? Sungguh ingin membanjiri dia dengan segala apa yang bisa kulakukan dalam batasku. Aku ingin mengasihinya, aku ingin menyayanginya, aku ingin memberi semua yang bisa kuberikan.
Aku ingin kami mulai bisa menentukan langkah berikutnya dan bergerak maju. Ini adalah tahun keempat kami dan aku sungguh berharap ada sesuatu yang terjadi, batu pijakan kami, milestone kami saat bergerak maju. Belum lagi, beberapa sahabat mulai satu demi satu menikah. Membicarakan masa depan.
Benar-benar curahan hati belaka...