Aku kehilangan akal. Aku kehilangan kewarasanku. Hanya paksaan untuk kerja sajalah yang bisa sedikit mengalihkan kekacauan pikiranku. Sisanya? Meleng sedikit, aku pasti melamun. Kosong, tidak bisa berpikir, kehilangan fokus. Bahkan sejujurnya, aku tidak tahu apa yang aku perlakukan sebagai fokus.
Mataku masih amat sehat, dengan lancarnya berproduksi. Bahkan di kala aku terbangun pukul tiga pagi. Mungkin shift malamnya lagi on-onnya.
Aku tidak punya kekuatan sama sekali. Aku bahkan kehilangan keyakinan. Aku tidak yakin akan apa pun juga. Tidak seharusnya aku bertanya "Kenapa?" namun aku tidak bisa hindari, itulah yang setiap saat muncul di kepalaku.
Aku bergerak seperti robot, dan di kala tidak bergerak, aku bersedih.
Seandainya, hanya seandainya, aku tidak punya hati, tidak punya emosi, tidak akan begini jadinya..
Monday, June 21, 2010
Wednesday, June 16, 2010
mengambang
Aku tidak bisa berkutik. Yang bisa kulakukan hanya berdoa dan berharap penuh padaNya.
Aku tidak mau melakukan sesuatu yang bodoh, yang mengancam posisiku karena mengancam posisinya. Aku tidak tahu kapan aku bisa bergerak dan melakukan sesuatu, dan aku tidak tahu sesuatu itu apa. Aku tidak tahu apa yang boleh dan yang tidak.
Aku pikir aku harus menempatkan diri di sepatunya.
Dorongan kuat untuk menjerit, berteriak, dan bahkan melukai diri sendiri, tetap ada. Hanya demi ada yang mengalihkan pikiranku.
Aku merasa seperti mengambang. Tidak jelas, ke kiri atau ke kanan, tenggelam atau berenang.
Aku tidak mau melakukan sesuatu yang bodoh, yang mengancam posisiku karena mengancam posisinya. Aku tidak tahu kapan aku bisa bergerak dan melakukan sesuatu, dan aku tidak tahu sesuatu itu apa. Aku tidak tahu apa yang boleh dan yang tidak.
Aku pikir aku harus menempatkan diri di sepatunya.
Dorongan kuat untuk menjerit, berteriak, dan bahkan melukai diri sendiri, tetap ada. Hanya demi ada yang mengalihkan pikiranku.
Aku merasa seperti mengambang. Tidak jelas, ke kiri atau ke kanan, tenggelam atau berenang.
Monday, June 14, 2010
sesal
Betul kan? Betul kan??
Penyesalan selalu datang terlambat, dan aku selalu menyesal! Kenapa tidak pernah melakukan sesuatu dengan perhitungan matang, ga pernah memikirkan setelahnya bagaimana, dan segalanya! Dasar impulsif! Sekarang semuanya kacau.. Dengan kekacauan, aku sadar apa yang aku inginkan adalah bersamanya. Mendampinginya, menemaninya, menjadi orang yang ada di sana saat ia membutuhkan.. Kini aku benar-benar hanya bisa mengandalkan Dia untuk membereskan semua kekacauan yang aku perbuat. Tak ada lagi kekuatanku..
Terlintas, bahkan sudah setengah jalan, aku memutuskan melakukan trik yang lama seperti dulu, menunggu sampai ia datang. Namun yah, ia sudah sangat mengenalku. Ia menolak, dan ketika aku 'memaksanya', ia memintaku untuk tidak melakukannya, atau ia bahkan akan berpikir lebih serius untuk kembali menemuiku. Aku kalah.. Tidak ada cara lain selain menunggunya, dan menunggu, dan menunggu.
Aku tidak boleh menjadi bodoh kali ini. Aku tidak punya hikmat saat ini, aku tidak bijak kali ini, aku tidak bisa berpikir kali ini, namun aku berdoa supaya aku tidak bodoh lagi. Semua keputusanku, apa yang aku lakukan, apa yang aku pilih akhir-akhir ini malah berbuntut kacau. Aku tidak tahu lagi mana yang benar mana yang salah; aku tidak tahu apakah yang aku lakukan benar atau tidak.
Ia sedih dan marah. Aku tahu. Dan aku sama sekali tidak menyalahkannya. Aku yang selalu egois, manja, berubah-rubah pikiran, labil, tidak jelas, tidak bisa memutuskan apa pun. Dan yang juga membuatku sedih adalah, mengapa ini semua harus terjadi dulu, baru aku bisa berpikir jelas. Baru dia menyadari bahwa di usianya sekarang, dia sudah harus menentukan sikap.
Hati kecilku, entah mengapa, berkata bahwa ini hanyalah sementara. Bahwa pada akhirnya keadaan akan dipulihkan, dan ada 'kami'. Namun aku tidak mau gegabah. Semua akan diatur olehNya. Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa, dan berdoa..
Penyesalan selalu datang terlambat, dan aku selalu menyesal! Kenapa tidak pernah melakukan sesuatu dengan perhitungan matang, ga pernah memikirkan setelahnya bagaimana, dan segalanya! Dasar impulsif! Sekarang semuanya kacau.. Dengan kekacauan, aku sadar apa yang aku inginkan adalah bersamanya. Mendampinginya, menemaninya, menjadi orang yang ada di sana saat ia membutuhkan.. Kini aku benar-benar hanya bisa mengandalkan Dia untuk membereskan semua kekacauan yang aku perbuat. Tak ada lagi kekuatanku..
Terlintas, bahkan sudah setengah jalan, aku memutuskan melakukan trik yang lama seperti dulu, menunggu sampai ia datang. Namun yah, ia sudah sangat mengenalku. Ia menolak, dan ketika aku 'memaksanya', ia memintaku untuk tidak melakukannya, atau ia bahkan akan berpikir lebih serius untuk kembali menemuiku. Aku kalah.. Tidak ada cara lain selain menunggunya, dan menunggu, dan menunggu.
Aku tidak boleh menjadi bodoh kali ini. Aku tidak punya hikmat saat ini, aku tidak bijak kali ini, aku tidak bisa berpikir kali ini, namun aku berdoa supaya aku tidak bodoh lagi. Semua keputusanku, apa yang aku lakukan, apa yang aku pilih akhir-akhir ini malah berbuntut kacau. Aku tidak tahu lagi mana yang benar mana yang salah; aku tidak tahu apakah yang aku lakukan benar atau tidak.
Ia sedih dan marah. Aku tahu. Dan aku sama sekali tidak menyalahkannya. Aku yang selalu egois, manja, berubah-rubah pikiran, labil, tidak jelas, tidak bisa memutuskan apa pun. Dan yang juga membuatku sedih adalah, mengapa ini semua harus terjadi dulu, baru aku bisa berpikir jelas. Baru dia menyadari bahwa di usianya sekarang, dia sudah harus menentukan sikap.
Hati kecilku, entah mengapa, berkata bahwa ini hanyalah sementara. Bahwa pada akhirnya keadaan akan dipulihkan, dan ada 'kami'. Namun aku tidak mau gegabah. Semua akan diatur olehNya. Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa, dan berdoa..
Friday, June 11, 2010
secarik surat
Engkau yang di sana,
Sama sekali ga pernah terbayang bahwa kita akhirnya mengalami ini, sekarang, dan yang menyedihkannya, aku yang membawa kita menjadi begini.
Salah satu mimpi terbesarku melibatkan kamu. Namun seiring waktu, aku sadar aku mungkin bukan yang terbaik bagi kamu. Keinginan terbesarku sekarang adalah kamu bahagia, walaupun mungkin harus ditempuh dengan aku melepaskan kamu dan melepaskan mimpi itu. Apalah arti sedikit kesakitanku, daripada aku malah menyakiti kamu terus dengan ga bisa berikan yang terbaik.
Apa yang ada di hatiku sedikitpun tidak pernah berubah, tidak pernah berkurang. Tapi bagaimanapun kamu adalah milikNya, bukan milikku, dan aku tidak berhak menghalangi segala kebaikan yang akan diberikanNya kepada kamu.
Saat ini aku dalam ketenangan yang luar biasa karenaNya, tapi aku sangat mengantisipasi kelak jika akhirnya aku terbangun dalam kesadaran bahwa aku melepaskan kamu, dan itu akan menghantamku luar biasa. Mungkin aku akan kehilangan kewarasanku. Tidak, sedikitpun tidak berlebihan seperti selalu kamu bilang, karena memang demikianlah adanya.
Aku sadar, mungkin segala perasaan itu telah berkurang dari dalam diri kamu. Perasaan yang dulu kamu tujukan buatku dan sebaliknya. Kita sudah tidak seperti dulu lagi. Aku makin jarang juga mengerti kamu, dan parahnya, aku semakin tidak bisa menghormati kamu. Aku selalu saja bikin kamu kesal, marah, bosan. Aku terpaksa lakukan ini semua bukan karena aku marah padamu, bukan karena disakiti oleh kamu, bukan karena kesalahan kamu, tapi karena aku yang sudah terlalu banyak menyakiti kamu.
Namun yaaa.. Demikianlah adanya. Mungkin airmataku akan terus tertumpah untuk beberapa waktu lamanya, tapi kita masih sama-sama punya Dia, Sang Penghibur. Maafkan aku karena menyakiti kamu dengan ini semua, tapi ini adalah yang terakhir.
Dan kamu akan menapaki lembaran baru yang jauh lebih luar biasa daripada ini semua :)
Sama sekali ga pernah terbayang bahwa kita akhirnya mengalami ini, sekarang, dan yang menyedihkannya, aku yang membawa kita menjadi begini.
Salah satu mimpi terbesarku melibatkan kamu. Namun seiring waktu, aku sadar aku mungkin bukan yang terbaik bagi kamu. Keinginan terbesarku sekarang adalah kamu bahagia, walaupun mungkin harus ditempuh dengan aku melepaskan kamu dan melepaskan mimpi itu. Apalah arti sedikit kesakitanku, daripada aku malah menyakiti kamu terus dengan ga bisa berikan yang terbaik.
Apa yang ada di hatiku sedikitpun tidak pernah berubah, tidak pernah berkurang. Tapi bagaimanapun kamu adalah milikNya, bukan milikku, dan aku tidak berhak menghalangi segala kebaikan yang akan diberikanNya kepada kamu.
Saat ini aku dalam ketenangan yang luar biasa karenaNya, tapi aku sangat mengantisipasi kelak jika akhirnya aku terbangun dalam kesadaran bahwa aku melepaskan kamu, dan itu akan menghantamku luar biasa. Mungkin aku akan kehilangan kewarasanku. Tidak, sedikitpun tidak berlebihan seperti selalu kamu bilang, karena memang demikianlah adanya.
Aku sadar, mungkin segala perasaan itu telah berkurang dari dalam diri kamu. Perasaan yang dulu kamu tujukan buatku dan sebaliknya. Kita sudah tidak seperti dulu lagi. Aku makin jarang juga mengerti kamu, dan parahnya, aku semakin tidak bisa menghormati kamu. Aku selalu saja bikin kamu kesal, marah, bosan. Aku terpaksa lakukan ini semua bukan karena aku marah padamu, bukan karena disakiti oleh kamu, bukan karena kesalahan kamu, tapi karena aku yang sudah terlalu banyak menyakiti kamu.
Namun yaaa.. Demikianlah adanya. Mungkin airmataku akan terus tertumpah untuk beberapa waktu lamanya, tapi kita masih sama-sama punya Dia, Sang Penghibur. Maafkan aku karena menyakiti kamu dengan ini semua, tapi ini adalah yang terakhir.
Dan kamu akan menapaki lembaran baru yang jauh lebih luar biasa daripada ini semua :)
Subscribe to:
Comments (Atom)