Saturday, September 25, 2010

'me' thing

Aku benci bangun di pagi hari dengan mata sembab dan bengkak, namun masalahnya sekarang ini adalah aku melakukan hal yang akan membuatku bangun besok dalam keadaan demikian.

Aku tidak pernah bisa mengerti kenapa aku selalu melakukan hal yang justru bertentangan dengan rasio. Aku adalah seorang yang rasional, tapi menyangkut ini, sungguh aku berharap emotionless. Jadi aku tidak perlu berhadapan dengan selfishnessku sendiri.

Aku pergi ke rumahnya beberapa hari yang lalu. Panggil aku tolol, goblok, apalah. Aku mau kirimkan kue dan hadiah ulang tahun. Di sana aku bertemu dengan sebagian kecil keluarganya. Aku bertemu dengan seorang boneka, malaikat kecil berambut kriwil-kriwil dan pipi tembem, dan aku ingin bermain dengannya, tapi aku akan melanggar suatu batasan besar kalau melakukannya. Mereka menyambutku dengan amat baik.

Dan kami kembali kontak secara otomatis, tapi itu hal lain lagi.

Maksudku, kenapa sih aku tidak bisa menjadi bagian dari kehidupannya? Apakah aku sebegitu tidak pantas dan tidak sepadannya sehingga dia tidak mau menerimaku menjadi bagian dari kesehariannya, dari kehidupannya? Apa sih yang salah? Masalahnya, aku memang yang punya kekurangan besar di sini. Aku tidak bisa merespon ini dengan baik. Nasihat orang-orang, cara kita menghadapi suatu situasi tergantung cara kita merespon situasi tersebut. Dan aku memang tidak merespon ini semua dengan baik. Aku tidak bisa.

Aku kesepian. Apalagi dengan aku sekarang hanya sendirian di rumah, aku tidak punya teman di hari-hari istirahatku, and it really sucks. Kenapa aku tidak bisa pergi ke sana, main-main, merasakan kehangatan yang lain daripada kehangatan keluargaku sendiri (kalau kami lagi lengkap berkumpul)?

Aku butuh curhat. Aku butuh didengar. Masalahnya, orang kepada siapa aku ingin bercerita justru adalah orang yang ingin aku ceritakan.

Kesalahannya semua ada padaku. Aku tidak bisa menguasai keadaan dengan baik, aku tidak bisa merespon dengan baik, aku belum bisa menerima kebiasaan-kebiasaannya yang bikin aku sebal.

Astaga, ini baru 3 tahun doang, dan aku hampir-hampir ga tahan dengan diriku sendiri yang cengeng dan manja menghadapi ini. Ini ga ada apa-apanya dibanding orang-orang lain yang punya hubungan lebih lama lagi. Aku dan dia bahkan ga bisa disebut hubungan. Hubungan apa sih yang kami miliki? Astaga, kalau memikirkan ini, aku...ga tahu musti ngapain. Aku tahu, aku harus menyerahkan semuanya penuh-penuh padaNya. Dia yang akan memelukku dan mengatakan semua baik-baik saja, tapi kebodohanku sebagai manusia biasa yang lemah, aku capek, aku marah, aku sedih, dan aku bertanya padaNya.

Oke, sepertinya mataku makin buram.

Saturday, September 18, 2010

tukang mimpi

Melihat judul blog sendiri, tiba-tiba tercenung: daydreamer.
Kenyataannya, walaupun mati-matian aku berusaha menjadi manusia yang berpijak pada logika, realita, bahkan cenderung kritis, aku tetaplah seorang pemimpi. Banyak mimpi yang ingin aku raih, aku wujudkan, aku rintis.

Aku merintis kesuksesanku. Tuhan memberiku jabatan yang baik, kapasitas yang terus bertambah, pekerjaan yang luar biasa.

Aku merintis masa depanku.

Aku tetap bermimpi sebagai seorang perempuan, yang akan mengakhiri kebebasan diri sendiri suatu saat nanti, entah dengan siapa Tuhan memberikanku kepadanya.

Di hati kecilku, jauh di dasar, sebersit keinginan untuk kembali, tetap ada. Di permukaan hati, aku selalu memelihara apa yang sudah terbangun 3 tahun terakhir ini. Tidak pernah berubah. Hanya saja, mungkin saat ini kami terpisah untuk bisa menjadi lebih baik di masa depan. Untuk berkaca, merefleksi diri, memperbaiki diri, menemukan kembali tujuan-tujuan sebenarnya dalam hal apapun, yang mungkin sempat tertunda atau menjadi agak buram karena berada di dalam lingkaran. Bagaimanapun, kita harus keluar dulu dari lingkaran untuk bisa melihat ke dalam, menemukan kesalahan-kesalahan dan memperbaikinya, sebelum bisa kembali ke dalamnya.

Aku selalu ada di sini.
Aku selalu menunggu.

Sunday, September 12, 2010

What next..?

Waktu akan menjawab, Tuhan akan memulihkan dan menguatkan.

Sekali lagi, ketekunanku menemui batasnya. Bingung dan marah karena ketidaktahuan, aku mengambil keputusan. Sekali lagi.

Aku berdoa, berdoa dan berdoa, dan pada saat aku memutuskannya, aku berada dalam kondisi yang tenang. Sangat tenang. Tidak tahu kapan akan tiba-tiba tertabrak kereta lagi. Mungkin kali ini aku sudah siap. Aku harap tidak ada lagi airmata yang tercurah.

Mungkin alasannya selama ini menundaku adalah karena ketidakenakan atau iba, aku bukan yang terbaik buatnya. Alasannya menunda kejelasan status denganku, alasannya menunda aku bisa dikenalkan kepada keluarganya dan aku memperkenalkan dia kepada keluargaku.

Dulu dia pernah bilang supaya aku tidak menyimpan unek-unek. Pada kenyataannya? Entah aku yang terlalu gugup untuk mendiskusikannya dengan dia, ataupun setiap kali aku mengajaknya bicara, dia menolak. Aku harap bukan sepenuhnya salahku bahwa akhirnya jadi snowball effect.

Semenjak dia bekerja, dia berubah. Aku mencoba memaklumi bahwa lingkungannya memang mempengaruhi dia. Semenjak dia pulang berlibur, dia semakin berubah. Dan aku tidak tahu lagi apa yang dia alami, dan aku tidak bisa menempatkan posisiku mengerti dia, karena dia pun jarang bercerita.

Ketidakberaniannya untuk memutuskan sesuatu; aku bilang dia pun tidak tahu kita ini mau apa. Kenyataannya memang begitu. Sampai kapan aku harus menunggu? Apa yang harus kutunggu?

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Doaku supaya Tuhan menenangkan aku; supaya Dia memberikan jalan keluar buat kami.

Saturday, September 4, 2010

Abu-abu

Kalau aku boleh bertanya pada Tuhan, banyak sekali yang ingin kuajukan, namun setelah kupikirkan kembali, intinya hanya satu: KAPAN.

Aku sudah berusaha menanyakan ini padanya. Yah, asal tahu aja, berbulan-bulan kubutuhkan untuk membangun nyaliku demi menanyakan hal ini, tapi aku tidak mendapatkan jawaban. Aku kecewa, kalau aku boleh kecewa.

Kapan semuanya boleh menjadi putih atau hitam sekalian? Sampai kapan harus menunggu? Kenapa aku harus terus berada di area abu-abu, tidak bisa berada di wilayah yang jelas? Kenapa aku tidak bisa menentukannya sendiri?

Aku ingin tidak egois dengan menyimpan semuanya sendiri, tapi semakin hari kudapati semua emosiku bergulung-gulung dan jadi snowball. Serba salah. Katanya ga boleh menyimpan, tapi kalau aku ungkapkan, aku jadi egois dan manja.

Sejujurnya aku teramat lelah.
Bingung harus apa, bagaimana.
Awalnya bisa menepis prasangka, namun lama kelamaan aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa aku bukan siapa-siapa; aku tidak perlu dijadikan prioritas; aku mungkin tidak cukup baik untuk itu, namun karena ketidakenakan akhirnya ya sudah dijalani saja, mau tidak mau.

Tapi aku tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan. Aku takut kehilangan.