Aku tidak pernah bisa mengerti kenapa aku selalu melakukan hal yang justru bertentangan dengan rasio. Aku adalah seorang yang rasional, tapi menyangkut ini, sungguh aku berharap emotionless. Jadi aku tidak perlu berhadapan dengan selfishnessku sendiri.
Aku pergi ke rumahnya beberapa hari yang lalu. Panggil aku tolol, goblok, apalah. Aku mau kirimkan kue dan hadiah ulang tahun. Di sana aku bertemu dengan sebagian kecil keluarganya. Aku bertemu dengan seorang boneka, malaikat kecil berambut kriwil-kriwil dan pipi tembem, dan aku ingin bermain dengannya, tapi aku akan melanggar suatu batasan besar kalau melakukannya. Mereka menyambutku dengan amat baik.
Dan kami kembali kontak secara otomatis, tapi itu hal lain lagi.
Maksudku, kenapa sih aku tidak bisa menjadi bagian dari kehidupannya? Apakah aku sebegitu tidak pantas dan tidak sepadannya sehingga dia tidak mau menerimaku menjadi bagian dari kesehariannya, dari kehidupannya? Apa sih yang salah? Masalahnya, aku memang yang punya kekurangan besar di sini. Aku tidak bisa merespon ini dengan baik. Nasihat orang-orang, cara kita menghadapi suatu situasi tergantung cara kita merespon situasi tersebut. Dan aku memang tidak merespon ini semua dengan baik. Aku tidak bisa.
Aku kesepian. Apalagi dengan aku sekarang hanya sendirian di rumah, aku tidak punya teman di hari-hari istirahatku, and it really sucks. Kenapa aku tidak bisa pergi ke sana, main-main, merasakan kehangatan yang lain daripada kehangatan keluargaku sendiri (kalau kami lagi lengkap berkumpul)?
Aku butuh curhat. Aku butuh didengar. Masalahnya, orang kepada siapa aku ingin bercerita justru adalah orang yang ingin aku ceritakan.
Kesalahannya semua ada padaku. Aku tidak bisa menguasai keadaan dengan baik, aku tidak bisa merespon dengan baik, aku belum bisa menerima kebiasaan-kebiasaannya yang bikin aku sebal.
Astaga, ini baru 3 tahun doang, dan aku hampir-hampir ga tahan dengan diriku sendiri yang cengeng dan manja menghadapi ini. Ini ga ada apa-apanya dibanding orang-orang lain yang punya hubungan lebih lama lagi. Aku dan dia bahkan ga bisa disebut hubungan. Hubungan apa sih yang kami miliki? Astaga, kalau memikirkan ini, aku...ga tahu musti ngapain. Aku tahu, aku harus menyerahkan semuanya penuh-penuh padaNya. Dia yang akan memelukku dan mengatakan semua baik-baik saja, tapi kebodohanku sebagai manusia biasa yang lemah, aku capek, aku marah, aku sedih, dan aku bertanya padaNya.
Oke, sepertinya mataku makin buram.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.