Releasing one of my biggest dreams isn't easy. Malah, sulit sekali. Sebuah mimpi yang, jujur, aku tidak tahu lagi apakah cukup realistis atau tidak. Sebuah mimpi yang, dahulu sebelum memulainya, nyaris tidak berani aku mulai.
Dulu aku teguh. Aku percaya, Dia akan memampukan aku melewati masa-masa sulit di awal membangun mimpi ini. Segala kenyataan-kenyataan yang luar biasa berat, yang langsung menerpa di titik awal, yang sebetulnya bisa saja membuatku berbalik seratus delapan puluh derajat tanpa berpikir lagi.
Namun ya mungkin sampai sini saja perjalananku yang luar biasa itu. Mungkin Dia berpendapat sudah cukup bagiku menjadi berkat baginya, di tempat ini, di waktu ini. Mungkin inilah waktunya aku bergerak, menjadi saluran berkat untukNya bagi orang lain lagi. Aku sampai pada titik di mana aku sadar, betapa pun aku berjuang, dengan doa yang kunaikkan tiap saat, tiap waktu, aku bukanlah yang terbaik baginya. Tapi aku bersyukur luar biasa bahwa aku boleh menjadi satu bagian dari kehidupannya, memiliki satu periode bersamanya. Dan yang paling disyukuri adalah aku akhirnya mengenal dengan jauh lebih baik, lebih akrab, dengan Dia.
Kami tidak memulai tahun 2010 dengan sangat baik. Kami baru bertemu di tahun 2010 ini pada bulan Februari. Dan menurut sudut pandangku, keadaan tidak sama lagi dengan dulu. Satu sama lain tidak lagi bisa memberi sejauh yang dapat diberikan. Tidak ada lagi cerita-cerita yang menyenangkan, membangun, bahkan sejauh perasaanku, semua dijalani hanya semata-mata terpaksa dan kewajiban.
Apa yang aku miliki buatnya masih sama. Malah, mungkin seiring aku melepaskan mimpiku, akan makin bertumbuh. Kasih itu tetap ada. Tapi saat ini kesedihan mendominasi pikiran dan perasaanku, karena aku tidak bisa menjadi yang terbaik baginya.
Dulu aku dimampukan melewati masa-masa berat, sekarang pun aku akan tetap dikuatkan melewati masa-masa yang sulit ini.
All the best for you, My Dear.
God bless you, now and forever.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.