Betul kan? Betul kan??
Penyesalan selalu datang terlambat, dan aku selalu menyesal! Kenapa tidak pernah melakukan sesuatu dengan perhitungan matang, ga pernah memikirkan setelahnya bagaimana, dan segalanya! Dasar impulsif! Sekarang semuanya kacau.. Dengan kekacauan, aku sadar apa yang aku inginkan adalah bersamanya. Mendampinginya, menemaninya, menjadi orang yang ada di sana saat ia membutuhkan.. Kini aku benar-benar hanya bisa mengandalkan Dia untuk membereskan semua kekacauan yang aku perbuat. Tak ada lagi kekuatanku..
Terlintas, bahkan sudah setengah jalan, aku memutuskan melakukan trik yang lama seperti dulu, menunggu sampai ia datang. Namun yah, ia sudah sangat mengenalku. Ia menolak, dan ketika aku 'memaksanya', ia memintaku untuk tidak melakukannya, atau ia bahkan akan berpikir lebih serius untuk kembali menemuiku. Aku kalah.. Tidak ada cara lain selain menunggunya, dan menunggu, dan menunggu.
Aku tidak boleh menjadi bodoh kali ini. Aku tidak punya hikmat saat ini, aku tidak bijak kali ini, aku tidak bisa berpikir kali ini, namun aku berdoa supaya aku tidak bodoh lagi. Semua keputusanku, apa yang aku lakukan, apa yang aku pilih akhir-akhir ini malah berbuntut kacau. Aku tidak tahu lagi mana yang benar mana yang salah; aku tidak tahu apakah yang aku lakukan benar atau tidak.
Ia sedih dan marah. Aku tahu. Dan aku sama sekali tidak menyalahkannya. Aku yang selalu egois, manja, berubah-rubah pikiran, labil, tidak jelas, tidak bisa memutuskan apa pun. Dan yang juga membuatku sedih adalah, mengapa ini semua harus terjadi dulu, baru aku bisa berpikir jelas. Baru dia menyadari bahwa di usianya sekarang, dia sudah harus menentukan sikap.
Hati kecilku, entah mengapa, berkata bahwa ini hanyalah sementara. Bahwa pada akhirnya keadaan akan dipulihkan, dan ada 'kami'. Namun aku tidak mau gegabah. Semua akan diatur olehNya. Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa, dan berdoa..
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.