Aku sudah berusaha menanyakan ini padanya. Yah, asal tahu aja, berbulan-bulan kubutuhkan untuk membangun nyaliku demi menanyakan hal ini, tapi aku tidak mendapatkan jawaban. Aku kecewa, kalau aku boleh kecewa.
Kapan semuanya boleh menjadi putih atau hitam sekalian? Sampai kapan harus menunggu? Kenapa aku harus terus berada di area abu-abu, tidak bisa berada di wilayah yang jelas? Kenapa aku tidak bisa menentukannya sendiri?
Aku ingin tidak egois dengan menyimpan semuanya sendiri, tapi semakin hari kudapati semua emosiku bergulung-gulung dan jadi snowball. Serba salah. Katanya ga boleh menyimpan, tapi kalau aku ungkapkan, aku jadi egois dan manja.
Sejujurnya aku teramat lelah.
Bingung harus apa, bagaimana.
Awalnya bisa menepis prasangka, namun lama kelamaan aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa aku bukan siapa-siapa; aku tidak perlu dijadikan prioritas; aku mungkin tidak cukup baik untuk itu, namun karena ketidakenakan akhirnya ya sudah dijalani saja, mau tidak mau.
Tapi aku tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan. Aku takut kehilangan.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.