Sunday, September 12, 2010

What next..?

Waktu akan menjawab, Tuhan akan memulihkan dan menguatkan.

Sekali lagi, ketekunanku menemui batasnya. Bingung dan marah karena ketidaktahuan, aku mengambil keputusan. Sekali lagi.

Aku berdoa, berdoa dan berdoa, dan pada saat aku memutuskannya, aku berada dalam kondisi yang tenang. Sangat tenang. Tidak tahu kapan akan tiba-tiba tertabrak kereta lagi. Mungkin kali ini aku sudah siap. Aku harap tidak ada lagi airmata yang tercurah.

Mungkin alasannya selama ini menundaku adalah karena ketidakenakan atau iba, aku bukan yang terbaik buatnya. Alasannya menunda kejelasan status denganku, alasannya menunda aku bisa dikenalkan kepada keluarganya dan aku memperkenalkan dia kepada keluargaku.

Dulu dia pernah bilang supaya aku tidak menyimpan unek-unek. Pada kenyataannya? Entah aku yang terlalu gugup untuk mendiskusikannya dengan dia, ataupun setiap kali aku mengajaknya bicara, dia menolak. Aku harap bukan sepenuhnya salahku bahwa akhirnya jadi snowball effect.

Semenjak dia bekerja, dia berubah. Aku mencoba memaklumi bahwa lingkungannya memang mempengaruhi dia. Semenjak dia pulang berlibur, dia semakin berubah. Dan aku tidak tahu lagi apa yang dia alami, dan aku tidak bisa menempatkan posisiku mengerti dia, karena dia pun jarang bercerita.

Ketidakberaniannya untuk memutuskan sesuatu; aku bilang dia pun tidak tahu kita ini mau apa. Kenyataannya memang begitu. Sampai kapan aku harus menunggu? Apa yang harus kutunggu?

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Doaku supaya Tuhan menenangkan aku; supaya Dia memberikan jalan keluar buat kami.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.